Friday, December 4, 2015

Sepuluh Kaidah itu...

Tak sedikit yang bilang dakwah adalah amanah yang harus ditopang bersama sama, dakwah adalah cinta yang ia bisa meminta semuanya. Memang Dakwah adalah mengajak untuk amar ma'ruf nahi mungkar.  Sangat disayangkan jika kita terlalu memaksa dalam proses dakwah itu, karena dakwah memiliki tahapan tahapan dalam 10 Kaidah Dakwah dari Jum'ah Amin Abdul Aziz :

1. Qudwah (teladan ) Sebelum dakwah (ajakan)

Prinsip menjadi teladan terlebih dahulu sebelum mengajak orang adalah yang utama. terkadang kita sebagai dai melupakan hal ini. Kita harus menunjukkan keteladanan kepada objek dakwah kita, apa dan bagaimana seorang muslim. Jangan sampai kita mengajak mereka untk melakukan sholat di sepertiga malam sedang kita tertidur dalam nyenyak. Baiknya seorang aktivis dakwah membiasakan kebiasaan kebiasaan baik.
Hal ini juga di terangkan dalam firman Allah :

أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ 
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri…” (QS Al Baqarah: 44) 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ 
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan ? Sungguh besar murka di sisi Allah bila kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan.” (QS Ash Shaff: 2-3) 

2. Ta'lif (Menjalin keakraban ) sebelum Ta'rif (Pengenalan Ajaran)

Bisa juga diartikan mengikat hati sebelum kita mengenalkan dakwah kita kepada objek dakwah. Agar tidak kaget. Karena tidak sedikit orang yang tidak suka dengan sesuatu yang asing. Atau tetiba kita memberi nasihat menyuruh ini itu berbicara dengan kata kata yang susah difahami, Maka kedekatan atau keakraban akan perlahan mengikat hati objek dakwah kita. Ini yang di contohkan Rasullulah dengan berdakwah dengan keluarga terdekat dahulu, sebab keluarga terdekat memiliki kedekatan hati.

3. Ta'rif (pengenalan) sebelum Taklif (pembebanan)

Kenalkan terlebih dahulu kemuliaan dan kesempurnaan Islam. membuat objek dakwah kita bangga dengan berislam. kenalkan dari yang ringan ringan. Tidak tiba tiba mengharamkan ini mengharamkan itu, ini boleh ini enggak boleh.yang terpenting dengan pengenalan ini memiliki pondasi yang kokoh tentang islam. 
Kita jangan terlalu tergesa menuntut segala sesuatu harus benar benar kepada objek dakwah. Itu juga telah dicontohkan rasullulah dengan berdakwah setahap demi setahap.Begitu juga penurunan Al quran juga dilakukan secara berangsur angsur.

4. Tadarruj (bertahap)

Rasullulah mengajarkan syariat kepada umatnya juga bertahap. Dimulai dari penguatan akidah sampaiu kepada hal hal muamalah. Artinya setiap manusia memiliki tahapan dalam belajar. tidak Hantam Kromo ( disamaratakan) . Ibarat makan dalam sehari 3 kali waktu menjadi satu waktu saja . semua kudu bertahap :) 

5. Taysir (mempermudah) sebelum ta'sir (mempersulit)

Terkadang kita membuat islam terkesan sulit di hadapan orang orang awam. Penh dengan tuntutan , peraturan dan larangan larangan yang dianggap tak lazim. Padahal islam itu mudah . Namun mereka yang tidak tahulah menganggap islam sult atau bahkan mempersulit dirinya sendiri. Di dalam islam ada rukhsah (keringanan) dan itu adalah sebuah karunia Allah atas hambaNya . Jika kita sedang dalam perjalanan jauh maka sholat boleh di jamak sholatnya.
Yang perlu dicatat : Islam itu mudah, namun jangan sampai memudah mudahkan~

6. Ushul (pokok) sebelum furu' (cabang) 

terkadang kita terbalik meletakkan hal ini. terlalu fokus pada hal hal furu' ketimbang ushul . apalagi sampai berdebat debat masalah furu' yang justru melupakan kita pada hal hal yang pokok Menjalin persatuan umat itu wajib maka jangan sampai kita semua berselisih pada hal hal cabang yang tidak lebih penting dari hal pokok.

7. Targhib (kabar gembira ) sebelum tarhib (ancaman)

Dalam berdakwah , kita wajib berkata bain dan menyampaikan hal hal baik pula. Khususnya bagi objek dakwah yang masih awam akan islam. menyampaikan islam dengan ringan namun mantab!

8. Tarhim (memahamkan ) sebelum talqin (doktrin)

Dakwah adalah upaya mengajak orang menemukan atau kembali ke jalan yang benar dengan kesadaran, bukan paksaan. Kita tidak boleh berdakwag dengan mendoktrin , menakut nakuti atau dengan mencuci otak.
9. Tarbiyah (pendidikan ) sebelum Ta'riyah (menjatuhkah)

Dakwah membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Maka butuh pembimbing untuk mendidikinya dalam hal ini. yang jelas jangan sampai menjatuhkan objek dakwah kita. Yang benar adalah memenangkan mereka dalam pembicaraan, menenangkan dan menjelaskannya secara halus. Menegur jangan sampai menghina, mendidik jangan sampai memaki
10.Tilmidzu ustad (muridnya guru) bukan tilmidzu kitab (muridnya kitab)

Ilmu tentang apapun tidak cukup hanya dnegan membaca buku. Buku itu keras, jika dibanting akan tetap keras, .Kita membutuhkan seorang guru sebagai penjelas.
Setelah mengetahui kaidah kaidah tersebut ada kah niat mundur untuk mensholehkan lingkungan ?
mari berintrospeksi :)

sumber: http://www.ldkuinsuka.com/

Sunday, June 14, 2015

Mengartikan Cinta

Malam ini gelap dan bintang masih diatas sana. Dibawahnya, angin menyulam aroma hujan disela sela indra. Paduan yang indah untuk membungkus gelisah. Beberapa orang akan bilang ini gundah. Tapi, mungkin langit akan bilang nikmatilah. Nikmatilah saat-saat bisa berdiskusi dengan malam yang hening. Nikmatilah saat saat bisa berdiskusi, bahkan –walaupun itu- dengan tumpukan nyamuk yang gagal hinggap di tubuh malam ini
Sekarang bangunlah. Tengoklah lewat jendela. Kita akan melihat bagaimana alam menghadirkan cinta.
Gelap telah berikrar pada malam. Bahwa ia akan selalu datang ketika matahari tenggelam. Bahwa ia akan selalu menemani, meskipun di caci. Seberapapun sebenarnya ia ingin dicintai, tapi kemudian malah dibenci. Seberapapun inginnya menjadi seperti terang, tapi ia akan menemani malam. Menjadi yang paling mengerti, ketika bulan hanya sekedar menemani. Menjadi yang memahami, ketika bintang memilih bersinar sendiri.. Dalam hening ataupun sunyi. Mengakhiri senja atau mendekati pagi. Membantu malam, yang entah kenapa jatuh hati pada bintang.
inikah cinta?
Malam telah mengaku jatuh hati pada bintang. Karenanya ia membiarkannya terlihat bersinar, ketika pagi hanya memilih berteman matahari. Malam begitu mengagumi bintang dengan segala pesonanya, lalu berikar aku akan menjaganya hingga akhir masa. Kisah kisah kebersamaan mereka begitu terkenal di eropa. Tentang cahaya yang berteman sunyi. Karena bersama bintang, malam merasa bertemu dengan siapa ia di takdirkan. Karena bersama bintang, akhirnya ia di harapkan. Diharap, meskipun tidak dinanti
Inikah cinta?
Sunyi sudah terlalu yakin untuk sering datang di malam hari. Ia tak pernah bilang apa yang ia rasa. Tapi bersama gelap ia bertemu orang orang yang setia berteman denganya. Mereka yang hanya diam tak tau harus berkata apa, lalu memilih menatap bintang dari gelapnya sudut malam..Gelap tak menyadari, tapi sunyi selalu menemani. Sunyi tak pernah bilang, walau ia sering disandingkan dengan bintang. Ia hanya terus diam, seakan bilang kalau kau tak paham. Ada yang bilang ini cara sunyi mencintai. Menjadi selimut bagi mencekamnya gelap. Seakan bilang kalau gelap tak sendiri. Menemani dalam diam, walau yang ditemani tidak menyadari.
Inikah cinta?
Entahlah. Yang aku pahami, cinta tak sesingkat gerak bibir “aku cinta”. Cinta haruslah sesuatu yang mendekatkan kita pada yang maha pencipta. Sebagaimana tujuan kita diciptakan di dunia. QS. Adz-Dzariyat ayat 56.
_________
Penulis: Rohmatikal Maskur
Tulisan tersebut adalah tulisan terbaik peringkat ke-2 dari karya yang masuk dalam JMMI Writing Challenge Februari 2015 – #Cinta. Selengkapnya baca disini.

Bagiku, Cinta Itu…

Kurebahkan tubuhku di atas kasur, menatap kosong langit-langit kamar. Perasaan dan pikiranku terfokus pada satu kata. CINTA. Paru-paruku sesak rasanya, susah payah aku menarik napas dan membuangnya dengan berat hati. Dahulu, kata itu selalu menghiasi seluruh inderaku. Sekarang, ketika aku merasakannya kembali, untuk apa aku mengindera hal yang tak perlu diindera? Cinta bukan teori. Cinta merupakan penerapan dan perwujudan naluri yang dimiliki manusia. Bukankah begitu? Sudah menjadi naluri manusia untuk berkasih sayang. Sudah menjadi naluri manusia jika tiba-tiba ia terpusat dan terfokus untuk melakukan hal-hal yang membuat orang yang dicintainya bahagia dan memperhatikannya. Benar bukan? Ingatkan kembali jika aku salah.
Cinta memang candu yang masih belum ditemukan obat penawarnya. Setidaknya bagiku seperti itu. Hati ini serasa membuncah jika merasakannya. Sudah lelah rasanya otak ini kuputar berulang kali untuk membentengi kewarasan yang mungkin sudah hampir tak tertolong lagi. Mau gila aku rasanya. Memikirkanmu. Mendambamu. Merasakan kehadiranmu. Membayangkan bagaimana jika aku dapat menemanimu di setiap lika-liku perjalanan kehidupan. Kau… aku benci sebenarnya jika cinta mulai berulah lagi seperti ini. Membuat pikiranku penuh sesak dengan kehadiranmu. Membuat duniaku sempit dipenuhi oleh sosokmu.
Ingin rasanya aku membisikkan kalimat ini tepat di lubang telingamu agar kau mampu merasakan getaran suaraku. “Aku mencintaimu”. Namun apa daya suaraku tercekat tiap hendak mengucapkannya. Pada akhrinya kalimat itu hanya berwujud udara yang terbawa angin. Entah kemana angin itu membawa serta pengakuanku. Kusebutkan namamu beserta ucapan cinta dalam doaku. Setidaknya penciptamu sudah tahu bahwa aku mencintaimu.
Bukankah tadi aku berkata bahwa cinta bukan teori? Tentu saja aku sudah berkali-kali mencoba untuk membuktikannya. Aku mencoba menarik perhatianmu. Mensejajarkan diri untuk bisa berjalan bersamamu. Mencari tahu hal yang kau sukai supaya bisa membahasnya denganmu. Mengaktifkan sensor peka agar bisa membantumu tanpa harus kau pinta. Menjadi badut penuh lelucon dan semangat agar kau bisa tersenyum kembali di saat kau berada di bawah roda kehidupan. Menjadi radar agar bisa melindungimu dari segala hal yang mengancammu. Secara naluriah beginilah sikapku ketika kau berada di sekitarku. Rasanya saraf sensorikku sudah menganggapmu sebagai stimulus yang membuat motorikku bekerja tanpa harus bertanya ke otak terlebih dahulu.
Di sisi lain aku khawatir bercampur cemas ketika kehadiranku terkadang menganggu kesenanganmu. Bukan apa-apa, tapi memang aku bukan seperti mereka atau orang lain. Kehadiranku yang tiba-tiba muncul mengusikmu dan menarikmu agar keluar dari zona nyamanmu. Celotehanku yang memekakkan telingamu dan terkadang membuatmu mendengus kesal. Isyarat pandangan mataku yang sarat makna juga membuatmu berdecak mungkin sambil berujar dalam hati, ‘Siapa kau yang berani-beraninya mengatur hidupku?’. Ya… sikap protektifku ini terkadang membuatmu melangkah mundur menjauhiku. Membuatku semakin khawatir saja.
 Namun cinta apa yang lebih besar daripada cinta yang berlandaskan cinta kepadaNya. Cinta itu suci, bukan? Cinta suci karena kita menghadirkan Allah di setiap hembusan napasnya. Aku mencintaimu sangat besar sampai-sampai aku berani mengarahkan jalanmu ketika langkahmu menjauhiNya. Aku mencintaimu sangat dalam sampai-sampai aku berani menarikmu begitu kuat ketika kau berada di tepi jurang kemaksiatan. Aku memang bukan mereka atau orang lain yang membuatmu nyaman ketika kau melangkah menjauh dari jalanNya. Aku juga bukan mereka atau orang lain yang membuatmu terpesona dengan nikmat dunia sampai-sampai kau ingin berlari mengejarnya.
Bukankah sering kusampaikan padamu sebuah hadits yang menyiratkan bahwa apa yang kulakukan merupakan wujud cintaku padamu?
Allah berfirman, “Kecintaanku pasti diperoleh oleh orang yang saling mencintai karena-Ku, saling berkumpul karena-Ku, saling mengunjungi karena-Ku, dan saling memberi karena-Ku”. (Shahih, Malik dalam al-Muwatha)
Memang seperti itulah cinta. Cinta telah meminta semuanya dariku. Tubuhku, waktuku, perhatianku, perasaanku. Cinta ini tak akan membuatku lelah untuk setia merengkuhmu, menarikmu, menjagamu dalam suatu dekapan ukhuwah. Semua ini karena Allah maka aku mencintaimu, Ibu. Aku mencintaimu, Ayah. Aku mencintaimu, Saudaraku. Aku mencintaimu, Sahabatku. Dan kelak aku akan mencintaimu, Imamku.
_________
Penulis: Dinda Sarihati Sutejo
Tulisan tersebut adalah tulisan terbaik peringkat ke-1 dari karya yang masuk dalam JMMI Writing Challenge Februari 2015 – #Cinta. Selengkapnya baca disini.

Wednesday, January 14, 2015

Ibu dan Sebait Do'a Untukmu

Bismillah, 
kuawali tulisan ini dengan menyebut Asma-Nya
bersama segenap cinta dan rasa syukur telah dilahirkan kedunia oleh seorang bidadari syurga.  
Dengan segenap kerinduan 
yang tak mampu ku urai dengan kata-kata.
Yang telah membimbing langkah ini hingga aku mengenal Sang Maha Menciptakan

Wahai Ibu,
cintamu bak sang surya yang senantiasa 
benderang menyinari alam ini.
Kasihmu bak permata yang terpancar tak ternilai
Nasihatmu laksana mata air yg membasahi keringnya qalbu

aku tahu, 
walau seribu bait puisi kutulis
tak akan mampu menggantikan pengorbanan mu melahirkan aku ke dunia,
Segala apapun yang ada di dunia ini 
tak dapat menggantikan kesabaranmu membesarkanku.

Tak pernah kulihat keluhan keluar dari bibirmu,
keringat yang mengalir di dahimu menjadi
saksi pengobananmu yang begitu besar padaku.

Darussalam 14/01/2015
(23.55)

Ibnu Rauf

Thursday, January 8, 2015

Ada Apa Denganmu….Ayah?




Ada apa denganmu?
Mengapa kau selalu menyembunyikan kesedihanmu
"Membohongi"ku dengan senyumanmu
Padalahal aku tahu,
dibalik senyuman itu ada rasa lelah
ada jiwa yang semakin payah
ada hati yang selalu kahawatir
ada apa denganmu?
Mengapa kau tak mengeluh
Atas semua rasa peluh
Dari hati yang semakin rusuh
Atas mimpi yang semakin menjauh

Atau mungkin selama ini aku yang salah?
Bahagiamu tak bisa dibayar dengan mobil mewah
Kepuasanmu tak terganti oleh rumah bertingkat
Ketenanganmu tak terasa oleh deposito berlipat

Kau lupakan  apa yang kau inginkan,
agar bisa memberikan apa yang aku butuhkan
kau hentikan apa yang kau kerjakan
untuk mendengarkan apa yang ku katakan

terima kasih ayah…
untuk setiap peluh yang kau teteskan,
untuk setiap kerut dahimu yang tak sempat kuhitung,
untuk setiap jaga sepanjang malam ketika aku sakit
dan ketika kau merindukanku,

Untuk seorang lelaki yang telah mengajarkan aku banyak hal
Semoga Allah memberikanmu tempat yang terbaik disisi-Nya

Darussalam, 8 Januari 2015

Ibnu Rauf

Popular Posts

Beranda

Powered by Blogger.

 

© 2013 Seorang Hamba. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top