Saturday, September 14, 2013

Ini Rumah Kami

Salah satu kegiatan di Mushalla Almudarris
Almudarris, sebuah kosa kata dalam bahasa arab yang berarti pendidik, jika menyebut kata ini aku jadi teringat sebuah bangunan kecil di sudut sebuah “Mantan” Kampus FKIP Unsyiah yang kini jadi kampusnya Para Seniman. Ya, kampus Jurusan Seni, drama,dan tari FKIP Unsyiah. Hmm, tapi kali ini aku tak mau membahas tentang jurusan itu. Tapi dari sudut lain dari kampus itu terdapat sebuah bangunan tua berwarna kuning dengan kosen bercat Hijau dengan atap yang berwarna merah (kerana korosi ^_^) di ujung atap terdapat sound sistem tua bermerek TOA yang aku tahu sudah 10 tahun dia bertengger di situ dan kini sudah tak berfungsi lagi. 

Aku juga tak tau pasti kapan pertama kali mushalla yang kini lokasinya terpisah dari kampus utama itu di bangun, yang aku tau, tahun 1995 awal lahirnya pergerakan dakwah kampus di kampus itu dengan dibentuknya sebuah lembaga dakwah Kampus tingkat fakultas yang sekarang lebih ku kenal dengan nama LDF Almudarris. Dan pernah juga terdengar kabar bahwa mushalla kami (Almudarris.red) merupakan tempat awal mula dimana manhaj tarbiyah di ajarkan di kampus ini, ah… begitu banyak misteri dari mushalla ini yang belum terungkap, dan aku yakin begitu banyak rahasia dari “Rumah Kami” ini.

Suatu malam pernah sebuah SMS masuk ke HP ku, Aku tak tahu lewat mana dia masuk, masuknya sangat cepat dan tiba2 membuat bulu kudukku merinding (lebay.com :D) yang jelas smsnya berisi pemberitahuan bahwa besok ada agenda gotong royong di mushalla yang ku sebutin di atas tadi (masih ingat gak nama Mushallanya??hehe ^_^). Hmm… ku ikhtiarkan untuk datang besok pagi.

Esok paginya para jundi-jundi almudarris dengan semangat membara datang satu demi satu. Akupun datang dengan hati riang gembira (kayak lagu anak TPA aja ^_^) dan semua yang datang juga terlihat seperti itu. Hmm.. mungkin karena biasanya setelah Gotng Royong akan ada menu special Khas LDF Almudaris, Apa ituuuuu?? Jreng…jreng…^_^. Bubur kacang Hijau.. Haaahh –GUBRAKKKK!!- rupanya ada maunya neh =_=”……. Hehe.

Setelah Celingak-celinguk, mondar-mandir, kesana-kemari gak karuan, dan hasil Investigasi ternyata mushalla tua ini sudah sangat Rapuh, semen pada dinding dan tiang-tiangnya mulai keropos, sangat memperihatinkan. Kasian sangat dirimu wahai Saudaraku. Andaikan kau bisa bicara pasti kau akan mengatakan “Pak Dekan, Tolong donk saya yang tua ini juga di perhatikan, jangan hanya membangun gedung Kuliah saja tapi juga Tempat ibadah juga di perhatikan, (Bek Donya mandum!!)”.hehe.. 

Sangat miris memang kondisi saat ini. Banyak orang berlomba-lomba membangan gedung-gedung pencakar langit tapi sangat sedikit yang bersemangat untuk membangun gedung “Penghubung Langit” (Masjid.red), tak jarang kita lihat sebuah bangunan masjid yang sudah bertahun-tahun tak siap-siap pembangunannya. Dan yang paling menyedihkan lagi ketika 2 tahun lalu mushalla ini pernah dirusak oleh orang-orang yang tidak senang dengan dakwah ini. Ah, betapa dakwah ini bukan hamparan Taman dunia yang indah berbunga, tapi dia adalah jalanan berbatu yang terjal dan berliku dan akan berujung di puncak keindahan jannahnya.
-----0-----

Tak terasa hampir tiga tahun sudah aku bersama lembaga ini. Berbagai pengalaman sudah kudapat, mungkin aku yang dulunya sangat pendiam, ya mungkin sekrang sudah lebih berani untuk tampil di depan orang ramai. Kegiatan demi kegiatan dalam dekapan ukhuwah yang sangat erat telah menjadikan diri ini tau betapa pentingnya berukhuwah dalam jama’ah.

Begitu banyak pengalaman yang telah aku dapatkan, aku sendiri tak menyangka orang sepertiku ini bisa bertahan hingga saat ini. mabit demi mabit, rapat demi rapat bahkan untuk sekedar menghilangkan “kegalauan” (Gaul men ^_^) mushalla ini menjadi pilihan. Betapa bahagianya ketika melihat kebersamaan yang terjalin di rumah kami ini.

Saat ini aku yang memegang tampuk kepemimpinan mushalla ini. aku yang bukan siapa-siapa yang awalnya hanya anggota pada Bidang Danus, dan kini diamanahkan menjadi Qiyadah. Aku sendiri merasa aneh, ah, bukan saatnya bengong, amanah sudah dipikul, jarum jam juga tak bisa di putar terbalik. Yang terpenting hari ini aku yakin bahwa Allah memberikan bukan apa yang kita inginkan, tapi Dia memberi apa yang terbaik untuk kita, sama saat ketika aku terjebak di Fakultas yang sebelumnya aku tak pernah bermimpi bisa kuliah di sini (FKIP.red). Ya, semua sudah tertulis di lauhul mahfuz-Nya.

Waktu terus berjalan, Mushalla ini sudah banyak melahirkan generasi-generasi Pejuang pendidikan islam yang tak kenal lelah berdakwah dan tak terhitung pula orang-orang yang mendapat hidayah dalam berbagai kegiatan di Rumah kami ini.
Saat ini aku begitu bangga bisa menjadi salah satu orang yang berjuang bersama para jundi dakwah. Dari sudut mushalla ini ku ikrarkan diri dan memohon kepada Allah agar hati ini selalu terpaut dalam ikatan dakwah.

Amin, Allahumma Amiin.

Banda Aceh, 20 November 2011
Wendi Septian

Sunday, September 8, 2013

Surat Kecil Untuk LDK

Mushalla LDF Almudarris FKIP Unsyiah

Beberapa tahun silam masih ingat ketika aku “terjebak”
Terjebak masuk dalam “lingkaran” mu
Dengan segala pesona yang ada pada dirimu,
Menyita semua waktu luangku
Awalnya aku pikir semua ini tak ada gunanya
Hingga aku tau, bersamamu membuatku lebih bermakna

Aku bangga hari ini dapat menjadi bagian darimu
Aku bangga hari ini dapat terus mengukir cinta bersamamu
Aku bangga karna kau telah mengubah keidupanku dengan sibghahmu
Walau sebagian dari mereka merasa “risih” dengan hadirmu

Hadirmu bak pelangi yang mewarnai kampus ini
Memberi warna yang menaungi disetiap desah nafas kami
Mengajari kami tentang ikatan hati yang tidak pernah putus
Mengajari kami tentang keteguhan yang tak pernah goyah
Mengajari kami tentang perjuangan yang tak kenal henti

Aku tahu engkau lahir dengan sejuta harap
Harapan yang sama yang juga ada dibenak sebagian orang di negeri ini
Harapan ingin menjadikan semuanya lebih baik
Walau butuh perjuangan untuk mewujudkan itu semua
Hingga nanti sampai nafas terhenti
Perjuangan ini tak akan mati

By. Ibnu Rauf

Dimulai 22/11/2012 (13:14)
DiSelesaikan: 08/09/2013 (15:33)

Tempat Dimana Semua Ini Bermula
(Mushalla Almudarris Tercinta)

Belajar Memaafkan dari Buya Hamka


Sebagai ulama yang teguh pendirian, tentu ada pihak yang tak suka dengan sikap HAMKA
Saat menjabat sebagai Presiden RI, Soekarno memaksakan ideologi Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) dan menahan Buya Hamka selama 2 tahun empat bulan dengan tuduhan tidak main-main; terlibat dalam rencana pembunuhan!

Oleh: Artawijaya

"Janganlah pandang hina musuhmu, karena jika ia menghinamu,itu ujian tersendiri bagimu.."(Syair Imam Syafi'i)

HAJI Abdul Malik Karim Amrullah atau bisa dikenal dengan Buya Hamka adalah ulama besar yang meninggalkan jejak kebaikan bagi umat dan bangsa ini. Semasa hidup, ulama kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, ini dikenal sebagai sosok ulama yang santun dalam bermuamalah, namun tegas dalam akidah. “Kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak manapun,”demikian tegasnya ketika dilantik sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Hamka salah seorang ulama yang mendapat gelar Doktor Honouris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, karena kiprah dakwahnya dalam membina umat. Ia dikenal dengan fatwanya ketika menjabat sebagai Ketua MUI, yang mengeluarkan fatwa haram bagi umat untuk Islam mengikuti “Perayaan Natal Bersama”. Ia juga yang menolak undangan untuk bertemu Paus, pemimpin Katholik dunia, ketika datang berkunjung ke Istana Negara pada masa Presiden Soeharto. Dengan tegas, Buya Hamka mengatakan perihal penolakannya bertemu Paus tersebut, “Bagaimana saya bisa bersilaturrahmi dengan beliau, sedangkan umat Islam dengan berbagai cara, bujukan dan rayuan, uang, beras, dimurtadkan oleh perintahnya?”

Demikian ketegasan Buya Hamka dalam soal akidah. Namun dalam bermuamalah, ia santun dan lembut, sikapnya mencerminkan pribadinya. Ia sosok pemaaf, tak pernah menaruh dendam...
Baru-baru ini, anak kelima dari Buya Hamka, Irfan Hamka, merilis ulang sebuah buku yang menggambarkan tentang sosok dan pribadi ulama tersebut. Buku berjudul “Ayah” itu menceritakan pengalaman hidup Irfan Hamka bersama sang ayah, dan suka duka perjalanan hidup ayah tercintanya, baik sebagai tokoh agama, politisi, sastrawan, dan kepala rumah tangga. Sebelumnya, putra kedua Buya Hamka, Rusjdi Hamka, juga pernah menulis buku yang mengisahkan tentang sosok sang ayah, yang berjudul “Pribadi dan Martabat Buya Hamka.”

Ada hal menarik yang diceritakan dalam buku “Ayah” tersebut. Terutama tentang bagaimana sosok pribadi Buya Hamka ketika menghadapi orang-orang yang pernah memfitnah, membenci, dan memusuhinya. Sebagai ulama yang teguh pendirian, tentu ada pihak yang tak suka dengan sikapnya. Irfan Hamka menceritakan bagaimana sikap Buya Hamka terhadap tiga orang tokoh yang dulu pernah berseberangan secara ideologi, memusuhi, membenci, bahkan memfitnahnya. Ketiga tokoh tersebut adalah Soekarno (Presiden Pertama RI), Mohammad Yamin (tokoh perumus lambang dan dasar negara), dan Pramoedya Ananta Toer (Budayawan Lekra/Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi seni dan budaya yang berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia).

Betapapun ketiga tokoh itu membenci dan memusuhi Buya Hamka, namun akhir dari kesudahan hidupnya mereka justru begitu menghormati dan menghargai pribadi dan martabat Buya Hamka.
Soekarno ketika menjabat sebagai Presiden RI dan memaksakan ideologi Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis), menahan Buya Hamka selama dua tahun empat bulan dengan tuduhan yang tidak main-main: terlibat dalam rencana pembunuhan Presiden Soekarno. Pada 28 Agustus 1964, Buya Hamka ditangkap dan dijerat dengan tuduhan melanggar Undang-Undang Anti Subversif Pempres No.11. Hamka ditahan tanpa proses persidangan dan tanpa diberikan hak sedikitpun untuk melakukan pembelaaan. Tak hanya itu, buku-buku karyanya pun bahkan dilarang untuk diedarkan. Hamka dijebloskan ke penjara, diperlakukan bak penjahat yang mengancam negara. Begitu zalimnya sikap Soekarno terhadap ulama tersebut.

Namun apa yang terjadi, setelah bebas dari penjara, dan Buya Hamka sudah mulai beraktivitas kembali, sementara kekuasaan Soekarno sudah terjungkal, peristiwa mengharukan terjadi. Soekarno yang mulai hidup terasing dan sakit-sakitan, di akhir hayatnya kemudian menitipkan pesan kepada orang yang dulu pernah dizaliminya. Pesan tersebut disampaikan kepada Buya Hamka lewat ajudan Presiden Soeharto, Mayjen Soeryo, pada 16 Juni 1970. Isi pesan tersebut berbunyi, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku..”

Hamka terkejut, pesan tersebut ternyata datang seiring dengan kabar kematian Soekarno. Tanpa pikir panjang, ia kemudian melayat ke Wisma Yaso, tempat jenazah Bung Karno disemayamkan. Sesuai wasiat Soekarno, Buya Hamka pun memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu. Dengan ikhlas ia menunaikan wasiat itu, mereka yang hadir pun terharu. Lalu, apakah Buya Hamka tidak menaruh dendam pada Soekarno. Dengan ketulusan ia mengatakan, “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu...”

Peristiwa mengharukan tentang kebesaran jiwa Buya Hamka dalam memaafkan orang-orang yang pernah membencinya adalah terkait dengan kematian Mohammad Yamin, salah seorang founding father negeri ini, tokoh kebangsaan yang juga termasuk perumus dasar dan lambang negara. Meski berasal dari Sumatera Barat, namun Yamin adalah produk pendidikan sekular. Ia aktif di Jong Sumatranen Bond (Ikatan Pemuda Sumatra) yang bercorak kesukuaan dan sekular. Ia juga menjadi anggota Gerakan Theosofi, sebuah organisasi kebatinan yang juga mengedepankan sekularisme dan paham kebangsaan.

Mohammad Yamin begitu membenci Buya Hamka karena perbedaan ideologi. Ia aktif di Partai Nasionalis Indonesia (PNI), sedangkan Buya Hamka aktif di Partai Masyumi. PNI menginginkan Pancasila sebagai dasar negara, sementara Partai Masyumi berpegang teguh pada sikap ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara. Kebencian Yamin tersulut, ketika dalam Sidang Majelis Konstituante, dengan lantang Buya Hamka berpidato dan mengatakan, “Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka!”
Pidato Buya Hamka yang tegas tersebut kemudian menyulut kebencian Mohammad Yamin. Ia menyuarakan kebenciannya kepada Hamka dalam berbagai kesempatan, baik ketika dalam ruang Sidang Konstituante, ataupun dalam berbagai acara dan seminar. “Rupanya bukan saja wajahnya yang memperlihatkan kebencian kepada saya, hati nuraninya pun ikut membeci saya,” begitu kata Buya Hamka.

Tahun 1962, Mohammad Yamin jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Buya Hamka memantau perkembangannya lewat radio dan media massa cetak. Hingga tiba pada suatu hari, Chaerul Saleh, menteri di kabinet Soeharto menelponnya dan ingin menyampaikan kabar mengenai kesehatan Mohammad Yamin. Chaerul Saleh kemudian menagatakan kepada Hamka, “Buya, saya membawa pesan dari Pak Yamin. Beliau sakit sangat parah. Sudah berhari-hari dirawat. Saya sengaja menemui Buya untuk menyampaikan pesan dari Pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir beliau,” ujarnya.

Hamka yang tertegun kemudian bertanya, “Apa pesannya?” Sang menteri itu kemudian mengatakan,”Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya. Saat ini, pak Yamin dalam keadaan sekarat,”terangnya. Selain itu, kata sang menteri, “Beliau mengharapkan sekali, Buya bisa menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya.” Kepada Buya Hamka, Menteri Chaerul Saleh itu juga mengatakan, Yamin khawatir, masyarakat Talawi, Sumatera Barat, tempatnya berasal, tidak berkenan menerima jenazahnya.
Mendengar penuturan Chaerul Saleh, saat itu juga Buya Hamka kemudian minta diantar ke RSPAD, tempat Yamin terbaring sakit. Melihat kedatangan Hamka, Yamin yang tergolek lemah kemudian melamabaikan tangan. Hamka mendekatinya, kemudian menjabat hangat tangannya. Yamin memegang erat tokoh yang dulu pernah dimusuhinya itu. Sementara Hamka terus membisikan ke telinga Yamin surat Al-Fatihah dan kalimat tauhid, “Laa ilaaha illallah.” Dengan suara lirih, Yamin mengikuti. Namun tak berapa lama, tangannya terasa dingin, kemudian terlepas dari genggaman Buya Hamka.
Mohammad Yamin menghembuskan nafas terakhirnya disamping sosok yang dulu menjadi seterunya. Di akhir hayat, tangan keduanya berpegangan erat, seolah ingin menghapuskan segala sengketa yang pernah ada. Orang yang hadir ketika itu mungkin terlibat dalam keharuan yang sangat. Memenuhi wasiat Yamin, Hamka pun kemudian turut mengantar jenazah salah seorang tokoh nasional itu sampai ke pembaringan terakhirnya.

Cerita terakhir adalah tentang Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer. Keduanya berseberangan secara ideologi. Pram, sapaan akrab sastrawan itu, menyuarakan aspirasi kaum kiri dan aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dekat dengan PKI. Lewat rubrik Lentera di Surat Kabar Bintang Timoer, Pram dan kawan-kawannya tak henti-hentinya menyerang Hamka. Karya-karya novel Hamka dituding sebagai plagiat, pribadinya diserang sedemikian rupa. Fitnah dan penghinaan itu tak lain adalah karena Buya Hamka adalah seorang sastrawan yang anti Komunis, tokoh Muhammadiyah dan Masyumi.

Namun takdir perseteruan itu menemukan jalan ceritanya yang sungguh mengharukan. Suatu ketika, Astuti, putri Pramoedya mengutarakan keinginannya untuk menikah. Ia sudah menentukan calon pendamping bernama Daniel Setiawan. Pram tentu bersenang hati atas keinginan anaknya tersebut. Namun ada satu ganjalan di hatinya, sang calon menantu yang berasal dari peranakan etnis Tionghoa, ternyata berlainan keyakinan dengan putrinya. “Saya tidak rela anak saya kawin dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda,” demikian ujar Pram, sebagaimana disampaikannya kepada Dr. Hoedaifah Koeddah, dokter yang mengobatinya dan dekat dengan keluarganya.

Singkat cerita, Pram kemudian meminta putri dan calon menantunya itu untuk datang menemui Buya Hamka, sosok ulama yang menjadi seterunya. Ia meminta calon menantunya itu untuk belajar Islam kepada Hamka. “Saya lebih mantap mengirimkan calon menantuku untuk diislamkan dan belajar agama pada Hamka, meski kami berbeda paham politik,” demikian Pram menjelaskan.
Bersama Astuti, sang calon menantu Pram itu kemudian mendatangi kediaman Buya Hamka. Ia menceritakan maksud kedatangan, agar Buya bersedia mengajarkan kekasihnya itu ajaran-ajaran Islam. Setelah itu, ia memperkenalkan diri sebagai anak dari Pramoedya Ananta Toer. Buya Hamka tertegun sejenak, raut wajahnya seperti ingin meneteskan air mata. Ia kemudian dengan ikhlas membimbing sejoli itu untuk belajar Islam. Tak lupa pula, ia menitipkan salam untuk ayah sang putri itu. Suasana begitu haru.

Astuti, putri Pramoedya itu tak menyangka, sosok yang dulu begitu dibenci oleh ayahnya, ternyata adalah lelaki yang bersahaja dan berlapang dada. Ia sungguh terharu, dan berterimakasih bisa diterima untuk menimba ilmu agama. Mereka kemudian larut dalam kehangatan dan melupakan segala dendam.

Begitulah sosok Buya Hamka. Ulama yang tegas dan bersahaja. Lelaki yang tak pernah memelihara dendam dalam hatinya, meski musuh yang begitu membencinya sudah tak berdaya. Ia berjiwa besar, berlapang dada, dan menganggap segala kebencian bisa sirna dengan saling memaafkan dan menebarkan cinta. Keteladanannya kini, tetap bersinar seperti mutiara.

Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan dosen STID Mohammad Natsir


Sumber: http://www.hidayatullah.com/read/29208/02/07/2013/belajar-memaafkan-dari-buya-hamka.html

Popular Posts

Beranda

Powered by Blogger.

 

© 2013 Seorang Hamba. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top