Thursday, October 25, 2012

Presiden Mursi Aminkan ‘Kehancuran Orang Yahudi dan Para Pendukungnya’


Presiden Mursi Aminkan ‘Kehancuran Orang Yahudi dan Para Pendukungnya’Sebuah video terbaru menunjukkan Presiden Mesir Muhammad Mursi mengatakan “Amin…” atas sebuah doa oleh seorang imam di masjid Propinsi Matruh, Syaikh Futuh Abdul Nabi Mansyur, dimana doa tersebut meminta pada Allah untuk “menghancurkan orang-orang Yahudi dan para pendukungnya.” Demikian dikutip dari JTA.
Presiden Mursi, dalam acara akhir pekan lalu, terlihat berdoa dengan jumlah jamaah yang besar di sebuah masjid di Propinsi Matruh. Acara ini diterjemahkan oleh Middle East Media Research Institute.
“Ya Allah, bebaskanlah kami dari dosa-dosa kami, menguatkan kami, dan memberikan kami kemenangan atas orang-orang kafir,” demikian bunyi doa Syaikh Futuh Abdul Nabi Mansyur, kepala dewan agama daerah.
“Ya Allah, hancurkan orang-orang Yahudi dan para pendukung mereka. Ya Allah, membubarkan mereka, membelah antara keduanya. Ya Allah, menunjukkan kekuatan Anda dan kebesaran atas mereka. Tunjukkan kami kemahakuasaan-Mu, ya Tuhan.”
Ditentang Pendukung Yahudi
Liga Anti Ketidaksetaraan Ras menyatakan keprihatinan atas anti Yahudi yang menguat di negara Mesir itu.
“Genderang anti Yahudi di Mesir ‘baru’ semakin keras dan bergema semakin keras di bawah pemerintahan Presiden Mursi, dan kami semakin khawatir tentang ekspresi kebencian bagi orang Yahudi dan Israel di masyarakat Mesir, sebagaimanasikap Presiden Mursi dalam menghadapi kebanyakan ekspresi kebencian secara publik,” kata Abraham Foxman, direktur nasional Liga Anti Ketidaksetaraan Ras, dalam sebuah pernyataan.
Simon Wiesenthal Center, lembaga Yahudi yang memonitor insiden anti-Semit di seluruh dunia, membuat kecaman keras terhadap Presiden baru Mesir Muhammad Mursi dari Ikhwanul Muslimin, setelah ia menghadiri shalat Jumat di mana khotbah imamnya menyerukan penghancuran dan mencegah penyebaran orang-orang Yahudi.
Simon Wiesenthal Center, lembaga Yahudi yang memonitor insiden anti-Semit di seluruh dunia, membuat kecaman keras terhadap Presiden baru Mesir Muhammad Mursi dari Ikhwanul Muslimin, setelah ia menghadiri shalat Jumat di mana khotbah imamnya menyerukan penghancuran dan mencegah penyebaran orang-orang Yahudi.
Sebuah video yang diemail oleh lembaga itu menunjukkan Mursi berada di sebuah masjid di kota Mediterania Marsa Matruh, di mana para jamaah menjawab “Amin” saat sang ulama membacakan doa dalam khutbah Jumat.
Dalam salah satu doa, ulama itu meminta Allah untuk menghancurkan orang-orang Yahudi dan pendukung mereka dan membubarkan mereka, memecah belah mereka. Mursi juga terlihat terus mengatakan Amin. Doa-doa itu ditayangkan di televisi pemerintah dan terekam oleh MEMRI, kelompok monitoring pro-Israel.
Dalam sebuah pernyataan, Simon Wiesenthal Center mengecam keras video tersebut, mengatakan tindakan itu adalah tanda tumbuhnya anti-Semit di Mesir.
“Ini adalah sebuah tamparan di wajah Amerika pada saat Mesir Mursi mendapat bantuan miliaran dolar dari AS dan mengatakan Amin untuk prinsip-prinsip yang bertentangan dengan semua orang Amerika,” kata pernyataan itu, mengutip pernyataan Rabbi Marvin Hier, pendiri dari Simon Wiesenthal Center dan Rabbi Abraham Cooper.
Simon Wiesenthal Center menyerukan Presiden Barack Obama untuk mengutuk gelombang suara yang berkembang dari sikap anti-Semit di Mesir, yang dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin serta mendorong AS untuk memotong kontak dengan kelompok itu.
Sebelumnya, Simon Wiesenthal Center juga  mengutuk komentar yang dibuat oleh pemimpin Ikhwanul Muslimin, Muhammad Badie, yang mengatakan bahwa orang-orang Yahudi lah yang menyebarkan korupsi dan telah membantai umat Islam serta kelompok yang merusak tempat-tempat suci. Dia juga menyerukan umat Islam untuk memerangi Israel, mengatakan kekuatan Zionis hanya mengerti dengan bahasa perang.
Sikap Presiden Mursi dan tanggapan kelompok Zionis Mesir ini menunjukkan bantahan atas fitnah yang dihembuskan media Zionis Israel baru-baru ini yang mengeruhkan kepercayaan rakyat Mesir melalui sebuah surat yang konon merupakan bukti kedekatan Mursi dengan pemimpin Israel. Dimana surat tersebut telah dibantah oleh pihak kantor kepresidenan Mesir.
Rep/Red: Shabra Syatila
Sumber: jta | eramuslim

Sang Murabbi, KH Rahmat Abdullah


Rahmat Abdullah, yang seringkali dipanggil Bang Mamak oleh warga Kampung Kuningan ini, meskipun lahir dari pasangan asli Betawi, namun ia selalu menghindari sebutan Betawi yang dianggapnya berbau kolonial Belanda. Ia lebih bangga dengan menyebut Jayakarta, karena baginya itulah nama yang diberikan Pangeran Fatahillah kepada tanah kelahirannya. Sebuah sikap yang tak lain lahir dari semangat anti kolonialisme dan imperialisme, serta kebanggaan (izzah) terhadap warisan perjuangan Islam.
Pada usia 11 tahun, Rahmat kecil harus menapaki hidupnya tanpa asuhan sang ayah, karena saat itu ia telah menjadi seorang anak yatim. Sang ayah hanya mewariskan pada dirinya usaha percetakan-sablon, yang ia kelola bersama sang kakak dan adik untuk menutupi segala biaya dan beban hidup yang mesti ditanggungnya.
Meskipun begitu, Rahmat bukanlah remaja yang cengeng. Walaupun harus ikut membanting tulang mengais rezeki, ia tetap tak mau tertinggal dalam pendidikan. Awal pendidikan resminya ia mulai sejak masuk sekolah dasar negeri di bilangan Kuningan, yang kala itu masih berupa perkampungan Betawi, belum berdiri gedung-gedung pencakar langit. Dan seperti umumnya generasi saat itu, Rahmat kecil setiap pagi mengaji (belajar membaca Al Quran, baca tulis Arab, kajian aqidah, akhlaq & fiqh dengan metode baca kitab berbahasa Arab, nukil terjemah dan syarah ustadz) baru siang harinya dilanjutkan dengan sekolah dasar.
Tahun 1966, setelah lulus SD, yang tahun ajarannya diperpanjang setengah tahun karena terjadi peristiwa G-30-S/PKI, Rahmat masuk SMP. Tapi kali ini ia mesti keluar lagi karena terjadi dilema dalam dirinya. Ironi memang, di satu sisi keaktifan dirinya sebagai aktifis demonstran anggota KAPPI & KAMI yang dikenal sebagai angkatan 66, namun di hari Jum’at sekolahnya justru masuk pukul 11.30, tepat saat shalat Jum’at.
Karenanya pada permulaan tahun ajaran berikutnya (1967/1968) Rahmat memutuskan pindah ke Ma’had Assyafi’iyah, Bali Matraman. Dari hasil test dan interview, ia harus duduk di kelas II Madrasah Ibtidaiyah (tingkat SD). Namun Rahmat tidak puas dengan hasil itu, ia mencoba melakukan lobby dengan seorang ustadz, untuk melakukan test ulang hingga ia pindah duduk di kelas III.
Permulaan belajar di Ma’had ini, bagi Rahmat begitu berbekas. Apalagi ia harus ikut mengaji pada seorang ustadz senior Madrasah Tsanawiyah (Tingkat SMP) yang sangat streng dalam berbicara dan mengajar dengan bahasa Arab. Namun tak selang lama, ternyata sang guru kelas ini justru sama-sama mengaji bersamanya.
Rahmat memang langsung meloncat naik ke kelas V, di sinilah ia belajar ilmu nahwu dasar yang sangat ia sukai karena dengan ilmu itu terkuaklah setiap misteri intonasi dan narasi penyiar Shauth Indonesia, yang sering disiarkan oleh radio RRI dengan berbahasa Arab. Siaran inilah yang menjadi acara kesukaan Rahmat. Sehingga meski hidupnya serba kekurangan, namun karena sadar akan pentingnya komunikasi dan informasi, Rahmat merelakan uang makannya untuk dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil jerih payahnya mencari pelanggan sablon, untuk membeli radio. Padahal saat itu, radio masih menjadi status simbol bagi orang-orang kaya zaman itu.
Selepas kelas V, Rahmat melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Assyafi’iyah. Di MTs ini ia belajar ushul fiqh, musthalah hadits, psikologi & ilmu pendidikan, di samping tetap belajar ilmu nahwu, sharf dan balaghah. Tapi pelajaran yang paling ia sukai adalah talaqqi. Biasanya talaqqi ini dilakukan langsung dengan para masyaikh (kiai) serta bimbingan langsung sang orator pembangkit semangat yang selalu memberikan inspirasi Rahmat muda, KH Abdullah Syafi’i.
Di saat ini pula Rahmat merintis dakwah dengan mengajar di Ma’had Asyafi’iyah dan Darul Muqorrobin, Karet Kuningan. Di tempat inilah Rahmat remaja mengabdikan dirinya sebagai guru, pendidik dan mengajarkan berbagai ilmu. Keseharian ini ia jalani bertahun-tahun dengan berjalan kaki dari Bali Matraman ke Karet Kuningan. Bahkan untuk memberikan pelajaran tambahan berupa les privat pun ia lakukan dengan berjalan kaki masuk ke lorong-lorong jalanan Jakarta hingga larut malam.
Semangat hidup dan dakwah ini juga ia tuangkan dalam berbagai untaian bait-bait syair, puisi serta berbagai tulisan artikel kecil yang ia kirim ke berbagai media. Tak jarang ia juga berlatih bermain teater bersama rekan-rekan guru atau teman-teman seperjuangannya.
Dari jerih payah inilah, selain bisa membeli sebuah motor Honda 66 atau sering disebut motor Chips, Rahmat Abdullah mampu mengasah watak dan pikirannya sehingga menjadi murid terbaik dan murid kesayangan dari KH. Abdullah Syafi’i. Bahkan sempat pada tahun 1980, bersama empat rekannya mau diberangkatkan ke Universitas Al Azhar Kairo Mesir, namun sayang gagal karena adanya ‘fitnah’ dari kalangan internal.
Namun hal itu tak menyurutkan Rahmat untuk selalu belajar. Sejak berkenalan dengan Syeikh Mesir yang pernah dikenalkan KH. Abdullah Syafi’i padanya, ia mulai senang melahap berbagai buku dan pemikiran Islam seperti Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Al Maududi serta tokoh nasional seperti HOS Cokroaminoto dan M. Natsir.
Sedang dari perjalanan dakwah bersama remaja-remaja Kuningan, menjadikannya sangat suka kala berdiskusi dan berguru dengan tokoh-tokoh M Natsir, Mohammad Roem ataupun Syafrudin Prawiranegara. Rahmat pun mengakui secara terus terang mengadopsi logika dan metode orasi yang ia ambil dari sang orator Isa Anshari dan Buya Hamka serta sang gurunya sendiri, Abdullah Syafi’i yang masyhur dengan teriakan lantang penggugah jiwa.
Rahmat remaja meski dikenal sebagai demonstran tapi sosoknya dikenal lembut, bahkan dianggapnya seringkali tidak bisa marah. Kemarahannya akan terlihat meledak jika Islam dilecehkan. Sebagaimana saat mendengar pembicaraan sang kakak, Rahmi, saat meminta kolega bisnisnya yang bekerja sebagai Kopasanda -Kopassus- untuk melunasi hutangnya. Tapi Kopassanda malah menjawab, “Nabi saja bisa meleset janjinya.” Kontan mendengar pernyataan itu Rahmat keluar dari ruangan samping dan langsung berucap, “Nabi yang mana janjinya tidak tepat,” Kopasanda itu malah menjawab, “Anda ndak usah ikut campur dengan urusan ini.” Rahmat remaja langsung menyambut, “Suara Bapak terdengar di telinga saya di sini, sekali pun bapak berpakaian dinas, nabi yang mana yang ingkar janji itu,” ujar Rahmat menahan emosi. Akhirnya Kopasanda itu minta maaf.
Sikap tegas ini lah yang menjadikan Rahmat Abdullah muda sangat disegani para pemabok ataupun preman. Karena caranya mendekati yang bersahabat. Bahkan, meski pernah kakaknya disakiti jagoan Kuningan waktu itu, H. Hamdani, ia tetap bisa menghadapinya dengan baik. Malah anak jagoan itu yang kemudian sempat ditahan polisi.
Anak-anak muda, preman, seniman semuanya ia rangkul terutama dalam wadah seni teater yang sering ia gelar di lapangan depan masjid Raudhtul Fallah —lapangan yang berada di belakang Dubes Malaysia saat ini-. Di tempat inilah Rahmat muda sering mengekspresikan syair dan puisinya serta peranan imajinasi dan pemikirannya sebagai sutradara teater dengan menggelar pagelaran teater drama terbuka. Teater yang terakhir kali ia pentaskan berjudul “Perang Yarmuk” yang tampil bersama Abdullah Hehamahua (1984). Dimana pementasannya sempat dikepung oleh intel dan aparat keamanan karena dianggap subversif di masa kekuasan Suharto.
Selepas pentas pun, tak ayal Rahmat dipanggil untuk menghadap KODIM. Namun Rahmat justru menjawab “Kalau yang memanggil Ibu, saya akan datang. Kalau yang memanggil KODIM sampai kapan pun saya tak akan pernah datang. Kalau mau saya datang ke KODIM, datang dulu ke ibu saya,” ungkap Rahmat muda menjawab aparat dari kodim yang melayangkan surat panggilannya. Bahkan salah satu aparat KODIM, Soeryat, sempat menangis di hadapan Rahmat muda karena nasehat-nasehatnya agar tidak saling ‘memberangus’ sesama Muslim.
Keasyikan menceburkan diri dalam dakwah, rupanya menjadikan Rahmat tak sadar telah dimakan usia. Rahmat baru tersadar ketika seorang teman yang baru menikah mengingatkan sudah waktunya memikirkan bangunan rumah tangga. Barulah ia menyadari usianya sudah memasuki tahun ke-32.
Malam itu, malam Kamis 14 Ramadhan 1405 H. (1984 M), bertiga; Rahmat, ibunda dan bibi datang mengkhitbah seorang anak yang pernah menjadi muridnya, Sumarni, tatkala Rahmat duduk di kelas II MTs. Saat itu Sumarni masih menjadi siswi kelas I Madrasah Ibtidaiyah (lk. Umur 5 tahun). Ia adalah sang nominator juara I untuk lomba praktik ibadah.
Saat berlangsungnya khitbah, ketika keluarga Rahmat mengajukan usulan walimah bulan Syawal seperti kebiasaan Rasululllah saw, seorang ustadz wakil dari perempuan mengatakan, “Itu tetap walimah, tetapi Anda tidak akan menemukan keberkahan seperti bulan (Ramadhan) ini.” Akhirnya, disepakati untuk nikah besok malamnya, malam Jum’at 15 Ramadhan. “Soal KUA urusan Ane, tinggal terima surat aje,” ujar ustadz tadi. “Bah, ini rada-rada ketemu,” ujar Rahmat muda dalam hati.
Walhasil sampai menjelang rombongan berangkat 15 Ramadhan itu, masih ada teman pemuda masjid yang bertanya, “Ini mau kemana sih?” Apalagi suasana saat itu memang masih represif. Bahkan belum sebulan menikah, di pagi buta ba’da subuh sesaat setelah peristiwa Tanjung Periok, Rahmat telah dijemput untuk mendengarkan rekaman peristiwa penembakan massa di Tanjung Priok yang terjadi semalam. Pagi itu lelaki yang sudah mulai akrab dipanggil Ustadz Rahmat itu, bersama pemuda Islam lainnya langsung meninjau lokasi yang porak poranda. Mendengar peristiwa itu pun, sang mertua justru mengusulkan untuk selalu membawa sang isteri untuk diajak juga keliling berbagai kota di Jawa. “Untuk penjajagan sikap ummat dan apa yang kerennya disebut ‘konsolidasi’lah,” ujar Ustadz Rahmat saat diwawancarai beberapa saat lalu.
Setelah menikah, ia tinggal di Kuningan, bersama Ibu dan Adiknya. Hingga lahir tiga orang anaknya, Shofwatul Fida (19), Thoriq Audah (17) dan Nusaibatul Hima (15).
Pada pertengahan tahun 80-an Rahmat muda bergabung dengan Harakah Islamiyah yang saat itu tumbuh berkembang di Indonesia. Bersama Abu Ridho, Hilmi Aminudin dan beberapa tokoh pemuda Islam lainnya terus bersatu bergerak dalam dakwah yang lebih luas dan tertata. Gerakan dakwahnya ini lebih terinspirasi pada gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Banna di Mesir yang sama-sama menjadi acuan kalangan muda saat itu
Pemikiran Hasan Al Banna yang telah lama menginspirasi dakwah pribadinya kini telah bertemu implementasinya bersama teman-teman yang merintis pendidikan dan kaderisasi dalam rangka penyadaran akan Islam dan mempertahankan kemurniannya. Di wadah baru inilah Rahmat selain berdiskusi, mengakses berbagai informasi tanpa melalaikan fungsi utama juga sebagai pendidik, penceramah, Rahmat merintis sebuah majalah Islam yang sangat disukai dan digemari kalangan muda. Namun sayang, saluran ekspresi pemikirannya itu harus dibredel di saat rezim orde baru mulai mengkhawatirkan kiprahnya. Namun pembredelan itu tak menyurutkan Rahmat untuk membuka lembaran baru berekspresi dalam dakwah.
Dan setelah 8 tahun menetap di Kuningan, ia mengontrak di Jl. Potlot I/ 29 RT 2 RW 3 Duren Tiga, Kalibata. Di sana lahir anaknya, Isda Ilaiha (13). Tapi panggilan dakwah sepertinya lebih memanggilnya. Tahun 1993 bersama murid-muridnya mencoba membangun pengembangan dunia pendidikan dan sosial dengan mendirikan Islamic Center Iqro’ yang terletak di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.
Di sini pula ia menetap dan memboyong keluarganya dari kontrakannya di Gang Potlot, Duren Tiga, Kalibata menuju tanah yang masih penuh rawa untuk berekspresi mengembangkan cita-citanya melalui kajian kitab-kitab klasik dan kontemporer. Di tempat terakhir ini merintis segala impian dan lahir anak-anaknya, Umaimatul Wafa (11), Majdi Hafizhurrahman (9), Hasnan Fakhrul Ahmadi(7).Di sini kesibukannya, semakin padat. Tetapi, kebiasaan pribadinya, untuk membaca, mengkaji Al Qur’an dan Tafsirnya, Hadits dan syarahnya tetap berjalan. Begitupun, kegiatannya mengisi pengajian di kantor, kampus, serta melayani berbagai macam konsultasi sejak lepas subuh hingga jam 08.00 pagi. Ditambah lagi kesibukan di Iqro’.
Bahkan, kegiatan rutin ini tetap ia jalani meskipun semenjak tahun 1999 ia diamanahi sebagai Ketua Bidang Kaderisasi DPP Partai Keadilan. Demikian juga saat beralih menjadi Ketua Majelis Syuro sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan Sejahtera yang ia dirikan bersama teman-teman seperjuangan setelah lebih dari 10 tahun ia rintis.
Pada tahun 2004 sang aktivis demonstrasi, budayawan, filosof, guru dan pendidik yang disegani anak muda ini harus masuk ke gedung parlemen. Ustadz Rahmat terpilih sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Bandung, Jawa Barat. Dan baru pada saat Ustadz Rahmat Abdullah mencalonkan diri inilah Bandung untuk pertama kalinya dimenangkan partai Islam.
Meskipun telah menjadi wakil rakyat, Ustadz Rahmat dikenal dikalangan Komisi III sebagai wakil rakyat yang tetap bersuara lantang, namun penuh santun dan filosofis sekaligus puitis dalam mengkritisi setiap kabijakan. Tak peduli menteri, presiden dan pejabat manapun ia sampaikan kritikan tajam membangunnya yang seringkali menjadi wacana baru bagi para pemimpin negeri ini.
Bahkan jabatan terakhir sebagai Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi Partai Keadilan Sejahtera ia emban dengan penuh amanah dan luapan semangat hingga akhir hayatnya saat ia harus dijemput kematian sesaat setelah berwudhu hendak menunaikan penghambaan pada sang Khalik, Selasa (14/6).
Sebuah harapan yang mungkin telah engkau ungkapkan sepekan sebelum dirimu meninggal. Dimana tidak biasanya dirimu ditegur isterimu ketika membuka album-album kenanganmu. “Lihat nih, orang Betawi kini telah keliling dunia, ke Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Amerika juga Makkah. Tinggal ke akheratnya saja yang belum,” ujarmu berseloroh yang kini telah kau buktikan.
Demikian biografi singkat KH Rahmat Abdullah, semoga Allah melapangkan kuburnya, yang kami kutip dari warisansangmurabbi.com. Beberapa tulisan beliau bisa disimak di Hasanalbanna.com.

Wednesday, July 18, 2012

Karena Dakwah Adalah Cinta (Rahmat Abdullah)


Memang seperti itu dakwah.
Dakwah adalah cinta.
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai pikiranmu.
Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

 Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…

“ Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(alm. Ust Rahmat Abdullah)

Saturday, June 30, 2012

Sebuah Cerita Tentang Dakwah di Kampus Para Pahlawan


Tahun 2009, dua tahun lalu semenjak aku pertama kali menginjakkan kaki ditempat ini. Suasananya mungkin sudah jauh berbeda. Masih banyak mahasiswa yang datang ke tempat itu. Dulu tempat itu serasa menjadi tempat yang paling nyaman untuk di kunjungi, walau bagian-bagian dinding-dindingnya terlihat mulai rapuh. 

Dua tahun lalu, ketika pertama kalinya aku merebahkan tubuh ini untuk sekedar melepas lelah setelah penat beberapa jam mendengar ocehan dosen matematika, hmmm….. sungguh mata kuliah yang paling aku benci dan berjanji tak akan aku ambil lagi walau huruf C yang tertera di KHS  untuk matkul itu.

                Siang itu kembali aku datang, berdiri  sembari membuka isi lemari berisi buku-buku yang ada didalamnya. Seraya menunggu tiba waktu adzan dhuhur, ku lihat seorang pemuda berkulit hitam bercelana kain yang digulung bagian bawahnya hingga mata kakinya terlihat, Dia membawa beberapa lembar kertas dan menempelnya disalah satu sudut kaca lemari itu. Ku beranikan diri untuk menegurnya “asslamu’alaikum”, dengan suara yang sedikit serak beliau menjawab, “Wa’alaykumussalam, mahasiswa baru ya”, “iya bang” jawabku. Setelah lama larut dalam obrolan aku baru tahu Beliau adalah salah satu pengurus Mushalla ini. Mushalla ini dinamakan Almudarris yang artinya Pendidik. Pada tahun 1995 Dimushalla ini lahir sebuah lembaga yang orang-orang menyebutnya LDK (lembaga dakwah kampus) tempat berkumpulnya aktifis-aktifis dakwah dari kampus FKIP. Mungkin semacam ROHIS, organisasi yang pernah ku geluti ketika masih dibangku SMA dahulu.

                Beberapa minggu aktifnya perkuliahan, banyak para aktifis LDK yang aku kenal. Abang-Abang pengurus LDK Almudarris yang rata-rata dari berbagai daerah di Aceh yang sangat ramah.. serasa mendapat keluarga baru ^^. Kegiatan-demi kegiatan aku ikuti, sungguh menarik. Di sana juga aku menemukan murabbi baru, setelah lebih dari 4 bulan tubuh ini jauh dari siraman materi-materi tarbiyah. Bertemu dengan teman-teman yang luar biasa berkumpul dalam satu lingkaran di Mushalla tercinta itu. Sesekali muncul canda dan tawa.

Betapa indahnya hidup dalam Ukhuwah. Kajian demi kajian, ifthar jama’I, halaqah, PPA,tempat diskusi, tempat melepas lelah setelah penat dengan materi kuliah. semua dilakukan di tempat itu. Menjadi rumah kedua bagi kami.

                Tak terasa sudah 2 tahun aku berada dalam barisan para pengurus mushalla ini, dan kini aku menjadi salah satu orang penting dalam barisan dakwah di kampus ini, tak sekedar pengurus mushala, tapi lebih dari itu yaitu para Orang-orang shalih pengubah peradaban kampus kami, FKIP Unsyiah yang kami banggakan.

                Di mushalla inilah berbagai tokoh dengan bermacam karakter terlahir. Mereka yang menjadi orang-orang yang duduk di tingkat eksekutif maupun legislatif Universitas. Mereka Memperjuangkan impian para Pendahulu dakwah kampus yang memperjuangkan dakwah kampus hingga sampai tingkat eksekutif kampus dengan harapan dapat mempermudah kerja dakwah.

                Mushalla ini lama kelamaan terasa sepi, hanya tinggal beberapa aktifis yang menghuni tempat itu. Tak tampak lagi saff yang terisi penuh oleh mahasiswa yang melaksanakan shalat jama’ah. Dan sudah jarang para mentor yang mengajak binaan UP3AI-nya melaksanakan mentoring di mushalla itu. Apa mungkin kondisi mushalla yang semakin jelek, Atau kebanyakan aktifis dakwah di kampus ini sudah mendapat “Tempat tongkrongan “ yang lebih nyaman di wajihah lain? Wallahu’alam.

                Mushalla Almudarris Lahir dikampus bersejarah. Dilahirkan oleh orang-orang yang berhati tulus yang menginginkan nilai-nilai islam tersemai di kampus ini. Mushalla bersejarah,masih tampak kokoh, disitulah tempat aku mulai mengenal fungsi sebuah mahasiswa yg tak hanya sekedar kuliah. Disanalah hati-hati ini pernah terpaut dalam indahnya ukhuwah. Disana tempat mimpi-mimpi indah bersemai menjadi kerja-kerja nyata para penyeru kebaikan. Kini dia hanyalah sebuah mushalla kampus yang terabaikan, menyendiri jauh dari pusat aktifitas mahasiswa kampus ini…….

Sektor selatan,  di penghujung Mei 2011
1KM dari mushalla itu
Ibnu Rauf

Untuk Sahabatku Yang Lupa

Sahabat….
Sudah dua tahun kita bersama
Sejak pertama kali aku melihatmu di sudut ruangan itu
Aku yakin dirimu adalah orang yang baik
Keyakinan ku mulai bertambah ketika ku melihatmu
Mengikuti pengajian di mushalla kecil di kampus kita
Sejak saat itu aku dan kamu mulai lebih dekat
Mengikrarkan diri kita sebagai AKTIVIS DAKWAH KAMPUS
Berjuang bersama meneruskan risalah para nabi
Bercita menciptakan kampus yang madani

Sahabatku…
Aku yakin setiap manusia punya salah dan khilaf
Begitu juga kau dan aku
Tapi kesalahan yang kita perbuat
Tidak bisa melebihi kekhilafan yang dilakukan orang awam
Karena kita adalah para da’I penyeru kebaikan
Yang menjadi contoh dan teladan bagi yang lain

Ya Allah..
Ampunilah kami
Atas segala salah dan khilaf kami.
Tak ada daya dan upaya diri ini
Tanpa ampunan dariMu.

Ibnu Rauf, 22|06|2011
"Sesungguhnya Allah mengampuni beberapa perilaku umatku,
yakni (karena) keliru, lupa dan terpaksa."
(Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

Suara Hati Sang Ikhwah

sungguh betapa lelahnya berjalan di jalan ini
Begitu banyak cemoohan, fitnah, dan bermacam kedzaliman
Begitu sulit diri bertahan, hanya sedikit kekuatan.
Sering aku merasa berat untuk terus melangkah
Ada saja penghalang dan rintangan yang menghalangi jalan panjang ini.
Tak ada taman bunga atau hamparan indah pasir pantai memutih
yang ada hanya hamparan karang terjal dipenuhi Onak dan duri.


 Ah…..
Betapa sulitnya hidup bersama penyeru kebaikan
yang hari-harinya di penuhi dengan berbagai amanah
tak ada waktu untuk sedikit beristirahat
Terkadang sering terbersit di benak ini untuk berhenti dan mundur
Menghindar dari semua masalah,
mencoba menyerah dari sebuah cobaan

Tapi..
tak ada gunanya aku mengeluh..
Lagipula aku tidak sendiri disini….
Begitu banyak Ikhwah di sekitarku
Bukankah aku ini orang yang terpilih?
Terpilih bersama orang-orang penyeru kebaikan
Karena tak semua orang dapat bertahan dalam barisan ini
Barisan Orang-orang yang merindukan bertemu denganNYA

Ya Allah..
Begitu banyak kealpaan yang aku lakukan
Betapa aku tak pandai bersyukur
Sungguh, Begitu banyak nikmat-Mu yang aku dustakan
Betapa seringnya diri ini mengeluh
Mengeluh dengan alasan lelah, tak mampu,
Kekecewaan yang tak beralasan
Padahal Rasul-Mu dan orang-orang terdahulu
Mendapati cobaan yang lebih dari pada ini.

Ya Rabb..
yang jiwa ini dalam Genggaman-Nya Teguhkanlah Hati ini Kuatkanlah ikatan-ikatan ini Jadikan peluh dan lelah ini menjadi Sesuatu yang bisa kami persembahkan Ketika bertemu dengan-Mu Di Jannah Firdausi…. Amin Ya Allah.

Ibnu Rauf
Rumah peradaban 
30|6|2012, 11.10 Wib 
Ketika api peluh disirami sejuknya Ukhuwah

Popular Posts

Beranda

Powered by Blogger.

 

© 2013 Seorang Hamba. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top