Wednesday, December 11, 2013

AKTIVIS DARI SUDUT KAMPUS

Mabit Pengurus LDF Almudarris 2012
Allahu Akbar……
Allahu Akbar……
Lantunan kumandang adzan mengalun memasuki sudut-sudut ruangan kelas sebuah kampus peradaban tempat para penerus bangsa ini di tempah untuk menjadi Iron stock Bangsa ini. Tampak para mahasiswa tengah  disibukkan dengan berbagai aktivitas, ada yang sibuk memperhatikan penjelasan dosen, ada yang asik melahap tumpukan diktat kuliah, dan aktifitas aktifitas-aktifitas lainnya.

Dari koridor selatan kampus, tampak Seorang pemuda berjanggut tipis, tidak berkumis dengan celana panjang yang sengaja agak dilipat terlihat tergesa-gesa berjalan menuju gedung kecil di pojok kampus. Ketergesa-gesaan untuk segera bertemu Rabbnya. Di ruangan kecil di sudut kampus itu segala asa dan cita-cita di tanam dan dipupuk dengan harapan ia dapat tumbuh dan bersemi menghiasi gersangnya kampus ini.

Ya, Mereka yang telah  mengikrarkan dirinya sebagai AKTIFIS DAKWAH KAMPUS, datang dengan cita-cita mulia, bergerak menyebarkan risalah dakwah Rasulullah memiliki impian menjadikan kampus menjadi kampus yang madani dan sebagai pusat pergerakan islam.

Dari Gedung kecil di sudut kampus itu meraka lahir. Ruangan yang tak sebesar cita-cita mereka. Ruangan yang menjadi saksi munajat dan pengabdian mereka kepada Rabbnya. Garis-garis shaff yang melintang menjadikan mereka seperti barisan yang tersusun kokoh.

Dari mushalla kampus itu mereka terus menempa diri, mempersiapkan diri mereka menjadi insan yang dapat bermanfaat bagi bangsa dan agama ini.

Ku tulis dengan rasa syukur menjadi bagian dari mereka..
Wendi Ibnu Rauf


23/08/2012

Monday, December 2, 2013

Lelaki tua itu bernama AYAH

aku dan ayah
Kutulis catatan ini saat hati ini dirundung rindu akan sosok lelaki itu. Sembilan tahun sejak kepergiannya tak seorangpun yang dapat menggantikan sosok lelaki sholeh, pekerja keras dan sangat mencintai keluarganya. Kupanggil beliau dengan sebutan ayah, lelaki yang bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik pengolahan pupuk disebuah kota di pesisir Aceh.

Pak zul, begitulah orang-orang sering memanggilnya. ku akui ia adalah lelaki yang paling hebat di dunia, Sangat teringat dalam benakku ketika beliau mengendarai sepeda tuanya ketika Pulang dan pergi bekerja serta Mengantarkanku ke sekolah untuk menggapai cita-cita. Aku tau beliau sangat berharap anak-anaknya kelak menjadi orang yang sukses dan dapat membanggakan orang tua.

Tak pernah kulihat raut keluh kesah diwajahnya, yang terlihat adalah pancaran cahaya penyejuk suasana yang kemudian menentramkan hati setiap anggota keluarga. Ketaatannya dalam beribadah menjadikan keberkahan selalu datang dalam keluarga kami. Setiap tuturkata yang keluat dari bibirnya adalah seuntai nasehat yang berharga bagi kami.

Ya Ayah, andai waktu bisa ku ulang, tak akan kusiakan setiap detik untuk selalu bersama denganmu, menemanimu di setiap suasana, terkadang kurasakan kecemburuan yang luarbiasa ketika melihat orang-orang dapat bercengkrama dengan sosok Ayah, menceritakan segala resah dan berbagi kebahagiaan bersama ayah tercinta.

Ya Allah, kutitipkan sebait do’a Untuknya agar ia menjadi orang yang kelak akan bersamaku bertemu denganMU di Jannah Firdausi.

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا.
“Allaahummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.


Mulai di Buat: 08/08/2012
Diselesaikan: 02/12/2013 (21:26)



Saturday, September 14, 2013

Ini Rumah Kami

Salah satu kegiatan di Mushalla Almudarris
Almudarris, sebuah kosa kata dalam bahasa arab yang berarti pendidik, jika menyebut kata ini aku jadi teringat sebuah bangunan kecil di sudut sebuah “Mantan” Kampus FKIP Unsyiah yang kini jadi kampusnya Para Seniman. Ya, kampus Jurusan Seni, drama,dan tari FKIP Unsyiah. Hmm, tapi kali ini aku tak mau membahas tentang jurusan itu. Tapi dari sudut lain dari kampus itu terdapat sebuah bangunan tua berwarna kuning dengan kosen bercat Hijau dengan atap yang berwarna merah (kerana korosi ^_^) di ujung atap terdapat sound sistem tua bermerek TOA yang aku tahu sudah 10 tahun dia bertengger di situ dan kini sudah tak berfungsi lagi. 

Aku juga tak tau pasti kapan pertama kali mushalla yang kini lokasinya terpisah dari kampus utama itu di bangun, yang aku tau, tahun 1995 awal lahirnya pergerakan dakwah kampus di kampus itu dengan dibentuknya sebuah lembaga dakwah Kampus tingkat fakultas yang sekarang lebih ku kenal dengan nama LDF Almudarris. Dan pernah juga terdengar kabar bahwa mushalla kami (Almudarris.red) merupakan tempat awal mula dimana manhaj tarbiyah di ajarkan di kampus ini, ah… begitu banyak misteri dari mushalla ini yang belum terungkap, dan aku yakin begitu banyak rahasia dari “Rumah Kami” ini.

Suatu malam pernah sebuah SMS masuk ke HP ku, Aku tak tahu lewat mana dia masuk, masuknya sangat cepat dan tiba2 membuat bulu kudukku merinding (lebay.com :D) yang jelas smsnya berisi pemberitahuan bahwa besok ada agenda gotong royong di mushalla yang ku sebutin di atas tadi (masih ingat gak nama Mushallanya??hehe ^_^). Hmm… ku ikhtiarkan untuk datang besok pagi.

Esok paginya para jundi-jundi almudarris dengan semangat membara datang satu demi satu. Akupun datang dengan hati riang gembira (kayak lagu anak TPA aja ^_^) dan semua yang datang juga terlihat seperti itu. Hmm.. mungkin karena biasanya setelah Gotng Royong akan ada menu special Khas LDF Almudaris, Apa ituuuuu?? Jreng…jreng…^_^. Bubur kacang Hijau.. Haaahh –GUBRAKKKK!!- rupanya ada maunya neh =_=”……. Hehe.

Setelah Celingak-celinguk, mondar-mandir, kesana-kemari gak karuan, dan hasil Investigasi ternyata mushalla tua ini sudah sangat Rapuh, semen pada dinding dan tiang-tiangnya mulai keropos, sangat memperihatinkan. Kasian sangat dirimu wahai Saudaraku. Andaikan kau bisa bicara pasti kau akan mengatakan “Pak Dekan, Tolong donk saya yang tua ini juga di perhatikan, jangan hanya membangun gedung Kuliah saja tapi juga Tempat ibadah juga di perhatikan, (Bek Donya mandum!!)”.hehe.. 

Sangat miris memang kondisi saat ini. Banyak orang berlomba-lomba membangan gedung-gedung pencakar langit tapi sangat sedikit yang bersemangat untuk membangun gedung “Penghubung Langit” (Masjid.red), tak jarang kita lihat sebuah bangunan masjid yang sudah bertahun-tahun tak siap-siap pembangunannya. Dan yang paling menyedihkan lagi ketika 2 tahun lalu mushalla ini pernah dirusak oleh orang-orang yang tidak senang dengan dakwah ini. Ah, betapa dakwah ini bukan hamparan Taman dunia yang indah berbunga, tapi dia adalah jalanan berbatu yang terjal dan berliku dan akan berujung di puncak keindahan jannahnya.
-----0-----

Tak terasa hampir tiga tahun sudah aku bersama lembaga ini. Berbagai pengalaman sudah kudapat, mungkin aku yang dulunya sangat pendiam, ya mungkin sekrang sudah lebih berani untuk tampil di depan orang ramai. Kegiatan demi kegiatan dalam dekapan ukhuwah yang sangat erat telah menjadikan diri ini tau betapa pentingnya berukhuwah dalam jama’ah.

Begitu banyak pengalaman yang telah aku dapatkan, aku sendiri tak menyangka orang sepertiku ini bisa bertahan hingga saat ini. mabit demi mabit, rapat demi rapat bahkan untuk sekedar menghilangkan “kegalauan” (Gaul men ^_^) mushalla ini menjadi pilihan. Betapa bahagianya ketika melihat kebersamaan yang terjalin di rumah kami ini.

Saat ini aku yang memegang tampuk kepemimpinan mushalla ini. aku yang bukan siapa-siapa yang awalnya hanya anggota pada Bidang Danus, dan kini diamanahkan menjadi Qiyadah. Aku sendiri merasa aneh, ah, bukan saatnya bengong, amanah sudah dipikul, jarum jam juga tak bisa di putar terbalik. Yang terpenting hari ini aku yakin bahwa Allah memberikan bukan apa yang kita inginkan, tapi Dia memberi apa yang terbaik untuk kita, sama saat ketika aku terjebak di Fakultas yang sebelumnya aku tak pernah bermimpi bisa kuliah di sini (FKIP.red). Ya, semua sudah tertulis di lauhul mahfuz-Nya.

Waktu terus berjalan, Mushalla ini sudah banyak melahirkan generasi-generasi Pejuang pendidikan islam yang tak kenal lelah berdakwah dan tak terhitung pula orang-orang yang mendapat hidayah dalam berbagai kegiatan di Rumah kami ini.
Saat ini aku begitu bangga bisa menjadi salah satu orang yang berjuang bersama para jundi dakwah. Dari sudut mushalla ini ku ikrarkan diri dan memohon kepada Allah agar hati ini selalu terpaut dalam ikatan dakwah.

Amin, Allahumma Amiin.

Banda Aceh, 20 November 2011
Wendi Septian

Sunday, September 8, 2013

Surat Kecil Untuk LDK

Mushalla LDF Almudarris FKIP Unsyiah

Beberapa tahun silam masih ingat ketika aku “terjebak”
Terjebak masuk dalam “lingkaran” mu
Dengan segala pesona yang ada pada dirimu,
Menyita semua waktu luangku
Awalnya aku pikir semua ini tak ada gunanya
Hingga aku tau, bersamamu membuatku lebih bermakna

Aku bangga hari ini dapat menjadi bagian darimu
Aku bangga hari ini dapat terus mengukir cinta bersamamu
Aku bangga karna kau telah mengubah keidupanku dengan sibghahmu
Walau sebagian dari mereka merasa “risih” dengan hadirmu

Hadirmu bak pelangi yang mewarnai kampus ini
Memberi warna yang menaungi disetiap desah nafas kami
Mengajari kami tentang ikatan hati yang tidak pernah putus
Mengajari kami tentang keteguhan yang tak pernah goyah
Mengajari kami tentang perjuangan yang tak kenal henti

Aku tahu engkau lahir dengan sejuta harap
Harapan yang sama yang juga ada dibenak sebagian orang di negeri ini
Harapan ingin menjadikan semuanya lebih baik
Walau butuh perjuangan untuk mewujudkan itu semua
Hingga nanti sampai nafas terhenti
Perjuangan ini tak akan mati

By. Ibnu Rauf

Dimulai 22/11/2012 (13:14)
DiSelesaikan: 08/09/2013 (15:33)

Tempat Dimana Semua Ini Bermula
(Mushalla Almudarris Tercinta)

Belajar Memaafkan dari Buya Hamka


Sebagai ulama yang teguh pendirian, tentu ada pihak yang tak suka dengan sikap HAMKA
Saat menjabat sebagai Presiden RI, Soekarno memaksakan ideologi Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) dan menahan Buya Hamka selama 2 tahun empat bulan dengan tuduhan tidak main-main; terlibat dalam rencana pembunuhan!

Oleh: Artawijaya

"Janganlah pandang hina musuhmu, karena jika ia menghinamu,itu ujian tersendiri bagimu.."(Syair Imam Syafi'i)

HAJI Abdul Malik Karim Amrullah atau bisa dikenal dengan Buya Hamka adalah ulama besar yang meninggalkan jejak kebaikan bagi umat dan bangsa ini. Semasa hidup, ulama kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, ini dikenal sebagai sosok ulama yang santun dalam bermuamalah, namun tegas dalam akidah. “Kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak manapun,”demikian tegasnya ketika dilantik sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Hamka salah seorang ulama yang mendapat gelar Doktor Honouris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, karena kiprah dakwahnya dalam membina umat. Ia dikenal dengan fatwanya ketika menjabat sebagai Ketua MUI, yang mengeluarkan fatwa haram bagi umat untuk Islam mengikuti “Perayaan Natal Bersama”. Ia juga yang menolak undangan untuk bertemu Paus, pemimpin Katholik dunia, ketika datang berkunjung ke Istana Negara pada masa Presiden Soeharto. Dengan tegas, Buya Hamka mengatakan perihal penolakannya bertemu Paus tersebut, “Bagaimana saya bisa bersilaturrahmi dengan beliau, sedangkan umat Islam dengan berbagai cara, bujukan dan rayuan, uang, beras, dimurtadkan oleh perintahnya?”

Demikian ketegasan Buya Hamka dalam soal akidah. Namun dalam bermuamalah, ia santun dan lembut, sikapnya mencerminkan pribadinya. Ia sosok pemaaf, tak pernah menaruh dendam...
Baru-baru ini, anak kelima dari Buya Hamka, Irfan Hamka, merilis ulang sebuah buku yang menggambarkan tentang sosok dan pribadi ulama tersebut. Buku berjudul “Ayah” itu menceritakan pengalaman hidup Irfan Hamka bersama sang ayah, dan suka duka perjalanan hidup ayah tercintanya, baik sebagai tokoh agama, politisi, sastrawan, dan kepala rumah tangga. Sebelumnya, putra kedua Buya Hamka, Rusjdi Hamka, juga pernah menulis buku yang mengisahkan tentang sosok sang ayah, yang berjudul “Pribadi dan Martabat Buya Hamka.”

Ada hal menarik yang diceritakan dalam buku “Ayah” tersebut. Terutama tentang bagaimana sosok pribadi Buya Hamka ketika menghadapi orang-orang yang pernah memfitnah, membenci, dan memusuhinya. Sebagai ulama yang teguh pendirian, tentu ada pihak yang tak suka dengan sikapnya. Irfan Hamka menceritakan bagaimana sikap Buya Hamka terhadap tiga orang tokoh yang dulu pernah berseberangan secara ideologi, memusuhi, membenci, bahkan memfitnahnya. Ketiga tokoh tersebut adalah Soekarno (Presiden Pertama RI), Mohammad Yamin (tokoh perumus lambang dan dasar negara), dan Pramoedya Ananta Toer (Budayawan Lekra/Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi seni dan budaya yang berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia).

Betapapun ketiga tokoh itu membenci dan memusuhi Buya Hamka, namun akhir dari kesudahan hidupnya mereka justru begitu menghormati dan menghargai pribadi dan martabat Buya Hamka.
Soekarno ketika menjabat sebagai Presiden RI dan memaksakan ideologi Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis), menahan Buya Hamka selama dua tahun empat bulan dengan tuduhan yang tidak main-main: terlibat dalam rencana pembunuhan Presiden Soekarno. Pada 28 Agustus 1964, Buya Hamka ditangkap dan dijerat dengan tuduhan melanggar Undang-Undang Anti Subversif Pempres No.11. Hamka ditahan tanpa proses persidangan dan tanpa diberikan hak sedikitpun untuk melakukan pembelaaan. Tak hanya itu, buku-buku karyanya pun bahkan dilarang untuk diedarkan. Hamka dijebloskan ke penjara, diperlakukan bak penjahat yang mengancam negara. Begitu zalimnya sikap Soekarno terhadap ulama tersebut.

Namun apa yang terjadi, setelah bebas dari penjara, dan Buya Hamka sudah mulai beraktivitas kembali, sementara kekuasaan Soekarno sudah terjungkal, peristiwa mengharukan terjadi. Soekarno yang mulai hidup terasing dan sakit-sakitan, di akhir hayatnya kemudian menitipkan pesan kepada orang yang dulu pernah dizaliminya. Pesan tersebut disampaikan kepada Buya Hamka lewat ajudan Presiden Soeharto, Mayjen Soeryo, pada 16 Juni 1970. Isi pesan tersebut berbunyi, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku..”

Hamka terkejut, pesan tersebut ternyata datang seiring dengan kabar kematian Soekarno. Tanpa pikir panjang, ia kemudian melayat ke Wisma Yaso, tempat jenazah Bung Karno disemayamkan. Sesuai wasiat Soekarno, Buya Hamka pun memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu. Dengan ikhlas ia menunaikan wasiat itu, mereka yang hadir pun terharu. Lalu, apakah Buya Hamka tidak menaruh dendam pada Soekarno. Dengan ketulusan ia mengatakan, “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu...”

Peristiwa mengharukan tentang kebesaran jiwa Buya Hamka dalam memaafkan orang-orang yang pernah membencinya adalah terkait dengan kematian Mohammad Yamin, salah seorang founding father negeri ini, tokoh kebangsaan yang juga termasuk perumus dasar dan lambang negara. Meski berasal dari Sumatera Barat, namun Yamin adalah produk pendidikan sekular. Ia aktif di Jong Sumatranen Bond (Ikatan Pemuda Sumatra) yang bercorak kesukuaan dan sekular. Ia juga menjadi anggota Gerakan Theosofi, sebuah organisasi kebatinan yang juga mengedepankan sekularisme dan paham kebangsaan.

Mohammad Yamin begitu membenci Buya Hamka karena perbedaan ideologi. Ia aktif di Partai Nasionalis Indonesia (PNI), sedangkan Buya Hamka aktif di Partai Masyumi. PNI menginginkan Pancasila sebagai dasar negara, sementara Partai Masyumi berpegang teguh pada sikap ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara. Kebencian Yamin tersulut, ketika dalam Sidang Majelis Konstituante, dengan lantang Buya Hamka berpidato dan mengatakan, “Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka!”
Pidato Buya Hamka yang tegas tersebut kemudian menyulut kebencian Mohammad Yamin. Ia menyuarakan kebenciannya kepada Hamka dalam berbagai kesempatan, baik ketika dalam ruang Sidang Konstituante, ataupun dalam berbagai acara dan seminar. “Rupanya bukan saja wajahnya yang memperlihatkan kebencian kepada saya, hati nuraninya pun ikut membeci saya,” begitu kata Buya Hamka.

Tahun 1962, Mohammad Yamin jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Buya Hamka memantau perkembangannya lewat radio dan media massa cetak. Hingga tiba pada suatu hari, Chaerul Saleh, menteri di kabinet Soeharto menelponnya dan ingin menyampaikan kabar mengenai kesehatan Mohammad Yamin. Chaerul Saleh kemudian menagatakan kepada Hamka, “Buya, saya membawa pesan dari Pak Yamin. Beliau sakit sangat parah. Sudah berhari-hari dirawat. Saya sengaja menemui Buya untuk menyampaikan pesan dari Pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir beliau,” ujarnya.

Hamka yang tertegun kemudian bertanya, “Apa pesannya?” Sang menteri itu kemudian mengatakan,”Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya. Saat ini, pak Yamin dalam keadaan sekarat,”terangnya. Selain itu, kata sang menteri, “Beliau mengharapkan sekali, Buya bisa menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya.” Kepada Buya Hamka, Menteri Chaerul Saleh itu juga mengatakan, Yamin khawatir, masyarakat Talawi, Sumatera Barat, tempatnya berasal, tidak berkenan menerima jenazahnya.
Mendengar penuturan Chaerul Saleh, saat itu juga Buya Hamka kemudian minta diantar ke RSPAD, tempat Yamin terbaring sakit. Melihat kedatangan Hamka, Yamin yang tergolek lemah kemudian melamabaikan tangan. Hamka mendekatinya, kemudian menjabat hangat tangannya. Yamin memegang erat tokoh yang dulu pernah dimusuhinya itu. Sementara Hamka terus membisikan ke telinga Yamin surat Al-Fatihah dan kalimat tauhid, “Laa ilaaha illallah.” Dengan suara lirih, Yamin mengikuti. Namun tak berapa lama, tangannya terasa dingin, kemudian terlepas dari genggaman Buya Hamka.
Mohammad Yamin menghembuskan nafas terakhirnya disamping sosok yang dulu menjadi seterunya. Di akhir hayat, tangan keduanya berpegangan erat, seolah ingin menghapuskan segala sengketa yang pernah ada. Orang yang hadir ketika itu mungkin terlibat dalam keharuan yang sangat. Memenuhi wasiat Yamin, Hamka pun kemudian turut mengantar jenazah salah seorang tokoh nasional itu sampai ke pembaringan terakhirnya.

Cerita terakhir adalah tentang Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer. Keduanya berseberangan secara ideologi. Pram, sapaan akrab sastrawan itu, menyuarakan aspirasi kaum kiri dan aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dekat dengan PKI. Lewat rubrik Lentera di Surat Kabar Bintang Timoer, Pram dan kawan-kawannya tak henti-hentinya menyerang Hamka. Karya-karya novel Hamka dituding sebagai plagiat, pribadinya diserang sedemikian rupa. Fitnah dan penghinaan itu tak lain adalah karena Buya Hamka adalah seorang sastrawan yang anti Komunis, tokoh Muhammadiyah dan Masyumi.

Namun takdir perseteruan itu menemukan jalan ceritanya yang sungguh mengharukan. Suatu ketika, Astuti, putri Pramoedya mengutarakan keinginannya untuk menikah. Ia sudah menentukan calon pendamping bernama Daniel Setiawan. Pram tentu bersenang hati atas keinginan anaknya tersebut. Namun ada satu ganjalan di hatinya, sang calon menantu yang berasal dari peranakan etnis Tionghoa, ternyata berlainan keyakinan dengan putrinya. “Saya tidak rela anak saya kawin dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda,” demikian ujar Pram, sebagaimana disampaikannya kepada Dr. Hoedaifah Koeddah, dokter yang mengobatinya dan dekat dengan keluarganya.

Singkat cerita, Pram kemudian meminta putri dan calon menantunya itu untuk datang menemui Buya Hamka, sosok ulama yang menjadi seterunya. Ia meminta calon menantunya itu untuk belajar Islam kepada Hamka. “Saya lebih mantap mengirimkan calon menantuku untuk diislamkan dan belajar agama pada Hamka, meski kami berbeda paham politik,” demikian Pram menjelaskan.
Bersama Astuti, sang calon menantu Pram itu kemudian mendatangi kediaman Buya Hamka. Ia menceritakan maksud kedatangan, agar Buya bersedia mengajarkan kekasihnya itu ajaran-ajaran Islam. Setelah itu, ia memperkenalkan diri sebagai anak dari Pramoedya Ananta Toer. Buya Hamka tertegun sejenak, raut wajahnya seperti ingin meneteskan air mata. Ia kemudian dengan ikhlas membimbing sejoli itu untuk belajar Islam. Tak lupa pula, ia menitipkan salam untuk ayah sang putri itu. Suasana begitu haru.

Astuti, putri Pramoedya itu tak menyangka, sosok yang dulu begitu dibenci oleh ayahnya, ternyata adalah lelaki yang bersahaja dan berlapang dada. Ia sungguh terharu, dan berterimakasih bisa diterima untuk menimba ilmu agama. Mereka kemudian larut dalam kehangatan dan melupakan segala dendam.

Begitulah sosok Buya Hamka. Ulama yang tegas dan bersahaja. Lelaki yang tak pernah memelihara dendam dalam hatinya, meski musuh yang begitu membencinya sudah tak berdaya. Ia berjiwa besar, berlapang dada, dan menganggap segala kebencian bisa sirna dengan saling memaafkan dan menebarkan cinta. Keteladanannya kini, tetap bersinar seperti mutiara.

Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan dosen STID Mohammad Natsir


Sumber: http://www.hidayatullah.com/read/29208/02/07/2013/belajar-memaafkan-dari-buya-hamka.html

Thursday, July 25, 2013

Apa Hukumnya Nasyid dan Musik????

Grup Nasyid Raihan
Bismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d,

Pada dasarnya hukum lagu itu mubah, namun bisa menjadi makruh atau haram bila diperlakukan dengan cara tertentu.

Misalnya, bila lagu itu bisa melalaikan seseorang dari shalat dan zikir kepada Allah, maka para ulama sepakat untuk mengharamkannya.

Begitu juga bila naskah lagu itu berisi hal-hal yang munkar, ma`shiat, syirik dan keterlaluan dalam memuja manusia, kekasih atau benda, maka jelas diharamkan.

Jumhur ulama menghalalkan mendengar nyanyian, tetapi berubah menjadi haram dalam kondisi berikut:

1. Jika disertai kemungkaran, seperti sambil minum khomr, berjudi dll.

2. Jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah seperti menyebabkan timbul cinta birahi pada wanita atau sebaliknya.

3. Jika menyebabkan lalai dan meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan shalat atau menunda-nundanya dll.

Madzhab Maliki, asy-Syafi'i dan sebagian Hambali berpendapat bahwa mendengar nyanyian adalah makruh. Jika mendengarnya dari wanita asing maka semakin makruh. Menurut Maliki bahwa mendengar nyanyian merusak muru'ah. Adapun menurut asy-Syafi'i karena mengandung lahwu. Dan Ahmad mengomentari dengan ungkapannya: "Saya tidak menyukai nyanyian karena melahirkan kemunafikan dalam hati".

Adapun ulama yang menghalalkan nyanyian, diantaranya: Abdullah bin Ja'far, Abdullah bin Zubair, Al-Mughirah bin Syu'bah, Usamah bin Zaid, Umran bin Hushain, Muawiyah bin Abi Sufyan, Atha bin Abi Ribah, Abu Bakar Al-Khallal, Abu Bakar Abdul Aziz, Al-Gazali dll. Sehingga secara umum dapat disimpulkan bahwa para ulama menghalalkan bagi umat Islam mendengarkan nyanyian yang baik-baik jika terbebas dari segala macam yang diharamkan sebagaimana disebutkan diatas.

Sedangkan hukum yang terkait dengan menggunakan alat musik dan mendengarkannya, para ulama juga berbeda pendapat. Jumhur ulama mengharamkan alat musik. Sesuai dengan beberapa hadits diantaranya, sbb:

"Sungguh akan ada di antara umatku, kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat yang melalaikan". (HR Bukhari)

Dari Nafi bahwa Ibnu Umar mendengar suara seruling gembala, maka ia menutupi telingannya dengan dua jarinya dan mengalihkan kendaraannya dari jalan tersebut. Ia berkata:"Wahai Nafi, apakah engkau dengar?. Saya menjawab: "Ya". Kemudian melanjutkan berjalanannya sampai saya berkata : "Tidak". Kemudian Ibnu Umar mengangkat tangannya, dan mengalihkan kendaraannya ke jalan lain dan berkata: Saya melihat Rasulullah saw. mendengar seruling gembala kemudian melakukan seperti ini? (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Artinya: Dari Umar bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. berkata tentang umat ini: "Gerhana, gempa dan fitnah." Berkata seseorang dari kaum muslimin: "Wahai Rasulullah kapan itu terjadi?" Rasul menjawab: "Jika biduanita, musik dan minuman keras dominan" (HR At-Tirmidzi).

Para ulama membicarakan dan memperselisihkan hadits-hadits tentang haramnya nyanyian dan musik. Hadits pertama diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, dari Abi Malik Al Asy'ari ra. Hadits ini walaupun terdapat dalam hadits shahih Bukhori, tetapi para ulama memperselisihkannya.

Banyak diantara mereka yang mengatakan bahwa hadits ini adalah mualaq (sanadnya terputus), diantaranya dikatakan oleh Ibnu Hazm. Disamping itu diantara para ulama menyatakan bahwa matan dan sanad hadits ini tidak selamat dari kegoncangan (idtirab). Katakanlah, bahwa hadits ini shohih, karena terdapat dalam hadits shohih Bukhori, tetapi nash dalam hadits ini masih bersifat umum, tidak menunjuk alat-alat tertentu dengan namanya. Batasan yang ada adalah bila ia melalaikan.

Hadits kedua dikatakan oleh Abu Dawud sebagai hadits mungkar. Kalaupun hadits ini shohih, maka Rasulullah saw. tidak jelas mengharamkannya. Bahkan Rasulullah saw mendengarkannya sebagaimana juga yang dilakukan oleh Ibnu Umar. Sedangkan hadits ketiga adalah hadits ghorib. Dan hadits-hadits lain yang terkait dengan hukum musik, jika diteliti ternyata tidak ada yang shohih.

Adapun ulama yang menghalalkan musik sebagaimana diantaranya diungkapkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya, Nailul Authar adalah sbb: Ulama Madinah dan lainnya, seperti ulama Dzahiri dan jama?ah ahlu Sufi memberikan kemudahan pada nyanyian walaupun dengan gitar dan biola." Juga diriwayatkan oleh Abu Manshur Al-Bagdadi As-Syafi?i dalam kitabnya bahwa Abdullah bin Ja'far menganggap bahwa nyanyi tidak apa-apa, bahkan membolehkan budak-budak wanita untuk menyanyi dan beliau sendiri mendengarkan alunan suaranya. Dan hal itu terjadi di masa khilafah Amirul Mukminin Ali ra. Begitu juga Abu Manshur meriwayatkan hal serupa pada Qodhi Syuraikh, Said bin Al Musayyib, Atho bin abi Ribah, Az-Zuhri dan Asy-Sya'bi.

Imam Al-Haramain dalam kitabnya, An-Nihayah dan Ibnu Abi Ad-Dunya yang menukil dari Al-Itsbaat Al-Muarikhiin; bahwa Abdullah bin Zubair memiliki budak-budak wanita dan gitar. Dan Ibnu Umar pernah kerumahnya ternyata disampingnya ada gitar , Ibnu Umar berkata:? Apa ini wahai sahabat Rasulullah saw. kemudian Ibnu Zubair mengambilkan untuknya, Ibnu Umar merenungi kemudian berkata:"Ini mizan Syami( alat musik) dari Syam". Berkata Ibnu Zubair: "Dengan ini akal seseorang bisa seimbang".

Dan diriwayatkan dari Ar-Rowayani dari Al-Qofaal bahwa madzhab Malik bin Anas membolehkan nyanyian dengan alat musik.

Demikianlah pendapat ulama tentang mendengarkan alat musik. Dan jika diteliti dengan cermat, maka ulama muta'akhirin yang mengharamkan alat musik karena mereka mengambil sikap waro(hati-hati). Mereka melihat kerusakan yang timbul dimasanya. Sedangkan ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabiin menghalalkan alat musik karena mereka melihat memang tidak ada dalil baik dari Al-Qur?an maupun hadits yang jelas mengharamkannya. Sehingga dikembalikan pada hukum asalnya yaitu mubah.

Oleh karena itu bagi umat Islam yang mendengarkan nyanyian dan musik harus memperhatikan faktor-faktor berikut:

Pertama: Lirik Lagu yang Dilantunkan.

Hukum yang berkaitan dengan lirik ini adalah seperti hukum yang diberikan pada setiap ucapan dan ungkapan lainnya. Artinya, bila muatannya baik menurut syara', maka hukumnya dibolehkan. Dan bila muatanya buruk menurut syara', maka dilarang.

Kedua: Alat Musik yang Digunakan.

Sebagaimana telah diungkapkan di muka bahwa, hukum dasar yang berlaku dalam Islam adalah bahwa segala sesuatu pada dasarnya dibolehkan kecuali ada larangan yang jelas. Dengan ketentuan ini, maka alat-alat musik yang digunakan untuk mengiringi lirik nyanyian yang baik pada dasarnya dibolehkan. Sedangkan alat musik yang disepakati bolehnya oleh jumhur ulama adalah ad-dhuf (alat musik yang dipukul). Adapun alat musik yang diharamkan untuk mendengarkannya, para ulama berbeda pendapat satu sama lain. Satu hal yang disepakati ialah semua alat itu diharamkan jika melalaikan.

Ketiga: Cara Penampilan.

Harus dijaga cara penampilannya tetap terjaga dari hal-hal yang dilarang syara' seperti pengeksposan cinta birahi, seks, pornografi dan ikhtilath.

Keempat: Akibat yang Ditimbulkan.

Walaupun sesuatu itu mubah, namun bila diduga kuat mengakibatkan hal-hal yang diharamkan seperti melalaikan shalat, munculnya ulah penonton yang tidak Islami sebagi respon langsung dan sejenisnya, maka sesuatu tersebut menjadi terlarang pula. Sesuai dengan kaidah Saddu Adz dzaroi' (menutup pintu kemaksiatan) .

Kelima: Aspek Tasyabuh.

Perangkat khusus, cara penyajian dan model khusus yang telah menjadi ciri kelompok pemusik tertentu yang jelas-jelas menyimpang dari garis Islam, harus dihindari agar tidak terperangkap dalam tasyabbuh dengan suatu kaum yang tidak dibenarkan. Rasulullah saw. bersabda:

Artinya: "Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk mereka" (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Keenam: Orang yang menyanyikan.

Haram bagi kaum muslimin yang sengaja mendengarkan nyanyian dari wanita yang bukan muhrimnya. Sebagaimana firman Allah SWT.:

Artinya:"Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik"(QS Al-Ahzaab 32)

Demikian kesimpulan tentang hukum nyanyian dan musik dalam Islam semoga bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi panduan dalam kehidupan mereka. Amiin.

Wallahu A`lam Bish-Sha
wab,

Mars aktivis Dakwah Kampus (sebuah seruan Pergerakan)

Tim Nasyid Ukhuwah

Wahai kader aktivis dakwah kampus
Mari Membina ukhwah islmiyah
beramar ma’ruf nahi mungkar
Dengan seruan Allahu akbar

Wahai jiwa-jiwa pemberani
Kampus madani  menjadi impian
Berazaskan alquran dan assunah
Hidup pasti sejahtera

Wahai kader aktivis dakwah kampus
Mari melangkah bersama
Rapatkan barisan luruskan niat
Hidup mulia mati syahidan

Rapatkan….barisan..
Hidup mulia mati syahidan….
Rapatkan… barisan….
Hidup mulya mati syahidan

BY
Tim Nasyid Unsyiah [TNU]

Monday, July 15, 2013

Lulus Ujian Akhir? Bidadari Surga Menantimu

Hidup penuh ujian. Allah SWT berfirman bahwa Ia memberi ujian agar mengetahui siapakah yang terbaik amalnya. Allah SWT berfirman, Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagimu, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka terbaik perbuatannya. (QS. al-Kahfi: 17)

Sesungguhnya ritme ujian hidup tak ubahnya seperti ujian akhir yang dihadapi para mahasiswa. Sebelum ujian tiba, mahasiswa harus mengikuti perkuliahan reguler dengan tekun dan menyimak apa yang diajarkan dosen agar mendapat ilmu yang bermanfaat dan lulus ujian. Mahasiswa yang terbaik persiapan belajarnya, maka niscaya akan mampu menghadapi ujian itu dengan baik pula. Suka atau tidak, mahasiswa harus menghadapinya, sehingga wajib baginya untuk menyiapkan perbekalannya, sebelum, menjelang, saat dan sesudah ujian. Demikian pula seorang muslim, ia harus menyiapkan bekal untuk menghadapi ujian hidup agar sukses memasuki surga.


Sebelum Ujian Tiba Setidaknya ada 5 hal yang harus disiapkan seorang muslim sebelum menghadapi ujian hidupnya, yaitu :

1. Kenali sang pemberi ujian, Allah SWT. Sebagai mahasiswa, kita harus mengenali tipe dosen yang mengajar dan mengetahui cara mengajarnya, pun dalam memberikan nilai. Apa yang dinilai dan bagaimana ia menilai. Seorang dosen tentu memiliki bobot penilaian sekian persen untuk nilai uts, uas, kehadiran, quiz dan tugas. Allah SWT memiliki 99 asmaul husna. Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu). (HR. Bukhari). Ia Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi jangan lupa, Ia juga Maha Keras Siksanya.

2. Simak apa yang diajarkan sang pemberi ujian Dosen biasanya memberi kisi-kisi ketika mendekati ujian, bahkan jauh hari, saat tengah mengajar, dengan kata-katanya, Catat ini, karena biasanya akan keluar dalam soal ujian. Kisi-kisi ujian itu difirmankan Allah SWT, Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dan sedikit ketakutan, penyakit, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar . (QS. Al Baqarah : 153 )

3. Banyak latihan Mahasiswa harus berlatih dengan mengerjakan soal-soal dan banyak membaca. Ini akan memudahkan ketika menghadapi ujian. Seorang muslim pun demikian, ia harus menempa dirinya dengan ibadah harian, dan tidak memanjakan diri dengan kesenangan duniawi. Orang beriman, mereka telah dilatih oleh-Nya untuk hanya bergantung pada-Nya melalui shalat, doa dan zikir. Mereka dilatih untuk hidup Zuhud (dunia ditangannya namun tidak di hati) melalui zakat, infaq dan shodaqoh. Mereka dilatih untuk bersabar, menahan hawa nafsu melalui puasa. Mereka dilatih untuk bersatu antar sesamanya, kaum mu'minin, melalui haji. Semua itu adalah bekal untuk mempersiapkan pejuang sejati.

4. Jangan absen untuk menghadap-Nya. Mahasiswa absen lebih dari 4 kali di kelas? Dapat dipastikan, tidak akan bisa mengikuti ujian akhir. Shalat wajib Anda tinggalkan? Maka kesempatan untuk berkompetisi hilang sudah. Shalat adalah tiang agama. Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi. (HR. Annasa'i dan Attirmidzi)

5. Kerjakan tugas-tugas dari Allah SWT. Dosen memberi tugas? Kerjakan, karena jika tidak, kita tidak akan bisa mendapat nilai A. Apa yang ditugaskan Allah SWT pada kita? Dan hendaklah ada diantara kamu orang-orang yang mengajak kepada kebaikan, dan menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104) Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. (QS. An-Naml : 120)

6. Bertanya jika ada yang tidak diketahui. Mahasiswa belajar sendiri, mungkin bisa saja dilakukan, namun belum tentu sempurna hasilnya karena terkadang ada catatan yang tak lengkap atau ada ilmu yang diketahui teman, tetapi tak diketahui oleh kita. Bertanya, adalah kunci pembuka ilmu. Seorang muslim dapat saja belajar sendiri dengan membaca buku-buku Islam, tetapi ia tetap harus bertanya pada teman yang lebih paham ataupun kepada para ulama.  Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.(QS.16 : 43)

Menjelang Ujian Waktu ujian tengah semester maupun akhir semester, telah ditetapkan waktunya. Dalam hidup, tidak bisa tidak, cepat atau lambat, ujian pasti terjadi. Ada 4 hal yang harus dipersiapkan ketika ujian semakin dekat, yaitu :

1. Persiapkan ilmu, analisa ujian Analisa ujian yang dihadapi, jangan reaktif. Siapkan jurus-jurus untuk menghadapi ujian, karena setiap soal berbeda bobotnya. Bekal ilmu untuk menghadapi ujian hidup, sangat penting. Dengan ilmu, kita dapat mengetahui mana jalan yang diridhai-Nya dan mana yang tidak. Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri. (HR. Athabrani).

2. Belajar dari soal-soal sebelumnya Mahasiswa harus rajin mencari foto kopi soal di semester sebelumnya, karena soal ujian biasanya mirip. Pelajarilah ujian yang dihadapi para nabi, ambil hikmah dari setiap ujian. Bagaimana ending penderitaan yang dialami para nabi? Semuanya ada di dalam Al Qur'an. Apakah kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kami. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, diguncang (dengan berbagai cobaan). Sehingga Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (QS. Al-Baqarah: 214)

3. Belajar dari buku wajib dan buku tambahan Ada buku wajib kampus dan buku tambahan. Buku wajib seorang muslim adalah Al Qur'an dan Hadits. Dan untuk buku tambahan adalah buku-buku Islam kontemporer agar wawasan bertambah. Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur'an) dan sunnah Rasulullah saw. (HR. Muslim).

4. Berdoa Berdoalah kepada Allah SWT semoga Ia memudahkan dalam mengerjakan soal-soal ujian. Senjata orang-orang beriman adalah doa. Doa adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi. (HR. Abu Ya�la)

Saat Ujian 1. Hadapi dengan tenang dan sabar. Saat memasuki ruang ujian, hadapilah dengan tenang dan sabar, jangan tergesa-gesa. Pun di dalam menghadapi ujian hidup, wajib sabar ketika ujian itu datang. Rasulullah SAW bersabda, Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula tertimpa musibah. (HR. Al Bukhari)

2. Konsentrasi pada soal ujian, jangan curang. Soal telah dibagikan. Konsentrasilah pada soal ujian dan jangan coba-coba menyontek! Saat ujian datang, seorang muslim jangan justru lari dari-Nya dengan cara bermaksiat kepada-Nya. Berapa banyak kita saksikan manusia yang ditimpa ujian dan cobaan, bukannya mendekat kepada-Nya, tetapi justru bermaksiat dengan lari dari jalan da'wah ataupun memisahkan diri dari barisan. syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga (QS. 48:11)

3. Selesaikan yang mudah dahulu. Menghadapi ujian dari dosen, membutuhkan strategi, jangan mengerjakan soal-soal yang sulit dahulu, tetapi kerjakan yang mudah. Jangan memasuki bidang ujian yang kita tidak mampu memasukinya. Rasulullah SAW bersabda, Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah? Nabi saw menjawab, Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.(HR. Ahmad dan Attirmidzi)

4. Jangan mengeluh bila soalnya sulit. Ujian kita sangat sulit? Jangan mengeluh. Karena percuma saja, toh ujian tak akan selesai dengan keluhan. Seorang muslim janganlah sampai mengeluh ketika ujian menimpa, karena Rasulullah SAW bersabda, Ada 3 hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sodaqoh (yang kita keluarkan). (HR. Athabrani).

Sesudah Ujian

1. Evaluasi Apakah ujian itu dapat kita lalui dengan baik? Ucapkan hamdalah bila berhasil melaluinya. Seorang muslim ketika telah melewati ujian berupa penderitaan dan kesedihan, hendaknya tetap istiqomah di jalan-Nya. Dari Abu Hurairah ra katanya, sabda Rasulullah saw, Tidak disengat seseorang mukmin itu dua kali dalam satu lubang.

2. Ambil hikmahnya. Ada hikmah di setiap kejadian. Karena khasanah kebaikan kembali kepada-Nya. Bahkan ketika tertusuk duri, ada hikmahnya. Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Al Bukhari)

3. Bersiap menghadapi ujian selanjutnya. Ujian mahasiswa tentu tidak hanya satu mata kuliah, tetapi ada beberapa macam. Selama hayat masih dikandung badan, maka bersiaplah menghadapi ujian-ujian yang beraneka ragam bentuknya. Apakah kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan kami beriman sedang mereka tidak di uji lagi� (QS. Al Ankaabut: 2-3)

Untuk Apa Ujian Itu?

Untuk apakah ujian itu Allah SWT berikan kepada hamba-hamba- Nya? Ujian adalah sunnatullah dari Allah untuk memisahkan orang-orang munafik dari barisan orang-orang beriman, memisahkan antara loyang dengan emas. Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran) . Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah).(HR. Athabrani)

Ujian adalah tarbiyah dari Allah untuk meningkatkan derajat hamba-Nya, sebagai wujud kasih sayang-Nya. Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Athabrani).

Ujian adalah sunntullah untuk orang-orang yang berada di jalan Al Haq. Jika kita tidak merasakan adanya ujian yang berat, maka patut dipertanyakan apakah jalan yang kita lalui adalah jalan yang benar. Saad bin Abi Waqqash berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah saw, Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya Nabi saw menjawab, Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seroang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Al Bukhari)

Dalam menghadapi ujian, seorang mu'min harus selalu berprasangka baik kepada Tuhannya. Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Attirmidzi).

Allah SWT menghibur orang-orang beriman dalam menghadapi ujian dengan firman-Nya, Dan janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi (derajatnya) , jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. 3 : 139).

Penutup Ujian hidup tidak selamanya berbentuk penderitaan dan kesedihan hati, tetapi bisa juga dalam bentuk kenikmatan dan kesenangan. Bila ujian itu dalam bentuk kesenangan, apakah sang hamba dapat bersyukur? Bila dalam penderitaan, apakah sang hamba bersabar? Syukur dan sabar adalah keistimewaan orang-orang yang beriman, yang dikagumi oleh sang nabi.

Surga memiliki kriteria (muwashofat) untuk orang-orang yang akan memasukinya. Nilai A, B, C, D, atau E, adalah hak prerogatif Allah SWT. Tugas manusia adalah berdoa, berikhtiar dan bersabar. Dan tentu saja, untuk mengetahui apakah kita benar-benar lulus atau tidak, jawabannya ada di hari akhir nanti.

Lulus ujian, akan menaikkan derajat kita di sisi-Nya dan tiada lain balasannya adalah ridha-Nya, surga-Nya, dan bidarari yang bermata jeli. Allah SWT berfirman, Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik. (QS. Al Waqiah : 22-23). Bidadari menantimu. Selamat ujian.



Sumber: (kiriman Email dari sang Murabbi)

Popular Posts

Beranda

Powered by Blogger.

 

© 2013 Seorang Hamba. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top