| Salah satu kegiatan di Mushalla Almudarris |
Almudarris, sebuah kosa kata dalam bahasa arab yang berarti pendidik, jika menyebut kata ini aku jadi teringat sebuah bangunan kecil di sudut sebuah “Mantan” Kampus FKIP Unsyiah yang kini jadi kampusnya Para Seniman. Ya, kampus Jurusan Seni, drama,dan tari FKIP Unsyiah. Hmm, tapi kali ini aku tak mau membahas tentang jurusan itu. Tapi dari sudut lain dari kampus itu terdapat sebuah bangunan tua berwarna kuning dengan kosen bercat Hijau dengan atap yang berwarna merah (kerana korosi ^_^) di ujung atap terdapat sound sistem tua bermerek TOA yang aku tahu sudah 10 tahun dia bertengger di situ dan kini sudah tak berfungsi lagi.
Aku juga tak tau pasti kapan pertama kali mushalla yang kini lokasinya terpisah dari kampus utama itu di bangun, yang aku tau, tahun 1995 awal lahirnya pergerakan dakwah kampus di kampus itu dengan dibentuknya sebuah lembaga dakwah Kampus tingkat fakultas yang sekarang lebih ku kenal dengan nama LDF Almudarris. Dan pernah juga terdengar kabar bahwa mushalla kami (Almudarris.red) merupakan tempat awal mula dimana manhaj tarbiyah di ajarkan di kampus ini, ah… begitu banyak misteri dari mushalla ini yang belum terungkap, dan aku yakin begitu banyak rahasia dari “Rumah Kami” ini.
Suatu malam pernah sebuah SMS masuk ke HP ku, Aku tak tahu lewat mana dia masuk, masuknya sangat cepat dan tiba2 membuat bulu kudukku merinding (lebay.com :D) yang jelas smsnya berisi pemberitahuan bahwa besok ada agenda gotong royong di mushalla yang ku sebutin di atas tadi (masih ingat gak nama Mushallanya??hehe ^_^). Hmm… ku ikhtiarkan untuk datang besok pagi.
Esok paginya para jundi-jundi almudarris dengan semangat membara datang satu demi satu. Akupun datang dengan hati riang gembira (kayak lagu anak TPA aja ^_^) dan semua yang datang juga terlihat seperti itu. Hmm.. mungkin karena biasanya setelah Gotng Royong akan ada menu special Khas LDF Almudaris, Apa ituuuuu?? Jreng…jreng…^_^. Bubur kacang Hijau.. Haaahh –GUBRAKKKK!!- rupanya ada maunya neh =_=”……. Hehe.
Setelah Celingak-celinguk, mondar-mandir, kesana-kemari gak karuan, dan hasil Investigasi ternyata mushalla tua ini sudah sangat Rapuh, semen pada dinding dan tiang-tiangnya mulai keropos, sangat memperihatinkan. Kasian sangat dirimu wahai Saudaraku. Andaikan kau bisa bicara pasti kau akan mengatakan “Pak Dekan, Tolong donk saya yang tua ini juga di perhatikan, jangan hanya membangun gedung Kuliah saja tapi juga Tempat ibadah juga di perhatikan, (Bek Donya mandum!!)”.hehe..
Sangat miris memang kondisi saat ini. Banyak orang berlomba-lomba membangan gedung-gedung pencakar langit tapi sangat sedikit yang bersemangat untuk membangun gedung “Penghubung Langit” (Masjid.red), tak jarang kita lihat sebuah bangunan masjid yang sudah bertahun-tahun tak siap-siap pembangunannya. Dan yang paling menyedihkan lagi ketika 2 tahun lalu mushalla ini pernah dirusak oleh orang-orang yang tidak senang dengan dakwah ini. Ah, betapa dakwah ini bukan hamparan Taman dunia yang indah berbunga, tapi dia adalah jalanan berbatu yang terjal dan berliku dan akan berujung di puncak keindahan jannahnya.
-----0-----
Tak terasa hampir tiga tahun sudah aku bersama lembaga ini. Berbagai pengalaman sudah kudapat, mungkin aku yang dulunya sangat pendiam, ya mungkin sekrang sudah lebih berani untuk tampil di depan orang ramai. Kegiatan demi kegiatan dalam dekapan ukhuwah yang sangat erat telah menjadikan diri ini tau betapa pentingnya berukhuwah dalam jama’ah.
Begitu banyak pengalaman yang telah aku dapatkan, aku sendiri tak menyangka orang sepertiku ini bisa bertahan hingga saat ini. mabit demi mabit, rapat demi rapat bahkan untuk sekedar menghilangkan “kegalauan” (Gaul men ^_^) mushalla ini menjadi pilihan. Betapa bahagianya ketika melihat kebersamaan yang terjalin di rumah kami ini.
Saat ini aku yang memegang tampuk kepemimpinan mushalla ini. aku yang bukan siapa-siapa yang awalnya hanya anggota pada Bidang Danus, dan kini diamanahkan menjadi Qiyadah. Aku sendiri merasa aneh, ah, bukan saatnya bengong, amanah sudah dipikul, jarum jam juga tak bisa di putar terbalik. Yang terpenting hari ini aku yakin bahwa Allah memberikan bukan apa yang kita inginkan, tapi Dia memberi apa yang terbaik untuk kita, sama saat ketika aku terjebak di Fakultas yang sebelumnya aku tak pernah bermimpi bisa kuliah di sini (FKIP.red). Ya, semua sudah tertulis di lauhul mahfuz-Nya.
Waktu terus berjalan, Mushalla ini sudah banyak melahirkan generasi-generasi Pejuang pendidikan islam yang tak kenal lelah berdakwah dan tak terhitung pula orang-orang yang mendapat hidayah dalam berbagai kegiatan di Rumah kami ini.
Saat ini aku begitu bangga bisa menjadi salah satu orang yang berjuang bersama para jundi dakwah. Dari sudut mushalla ini ku ikrarkan diri dan memohon kepada Allah agar hati ini selalu terpaut dalam ikatan dakwah.
Amin, Allahumma Amiin.
Banda Aceh, 20 November 2011
Wendi Septian


3 comments:
heeem rinduuuuuuuuu *edisi lebay
Woikkkk
Mantap bro
kalo ada mabit, undang2 lah kami2 yg udah tua2 ini y pak ketua
:)
ada foto kita wak disitu, narsis dikir ah
Post a Comment