Sunday, June 14, 2015

Mengartikan Cinta

Malam ini gelap dan bintang masih diatas sana. Dibawahnya, angin menyulam aroma hujan disela sela indra. Paduan yang indah untuk membungkus gelisah. Beberapa orang akan bilang ini gundah. Tapi, mungkin langit akan bilang nikmatilah. Nikmatilah saat-saat bisa berdiskusi dengan malam yang hening. Nikmatilah saat saat bisa berdiskusi, bahkan –walaupun itu- dengan tumpukan nyamuk yang gagal hinggap di tubuh malam ini
Sekarang bangunlah. Tengoklah lewat jendela. Kita akan melihat bagaimana alam menghadirkan cinta.
Gelap telah berikrar pada malam. Bahwa ia akan selalu datang ketika matahari tenggelam. Bahwa ia akan selalu menemani, meskipun di caci. Seberapapun sebenarnya ia ingin dicintai, tapi kemudian malah dibenci. Seberapapun inginnya menjadi seperti terang, tapi ia akan menemani malam. Menjadi yang paling mengerti, ketika bulan hanya sekedar menemani. Menjadi yang memahami, ketika bintang memilih bersinar sendiri.. Dalam hening ataupun sunyi. Mengakhiri senja atau mendekati pagi. Membantu malam, yang entah kenapa jatuh hati pada bintang.
inikah cinta?
Malam telah mengaku jatuh hati pada bintang. Karenanya ia membiarkannya terlihat bersinar, ketika pagi hanya memilih berteman matahari. Malam begitu mengagumi bintang dengan segala pesonanya, lalu berikar aku akan menjaganya hingga akhir masa. Kisah kisah kebersamaan mereka begitu terkenal di eropa. Tentang cahaya yang berteman sunyi. Karena bersama bintang, malam merasa bertemu dengan siapa ia di takdirkan. Karena bersama bintang, akhirnya ia di harapkan. Diharap, meskipun tidak dinanti
Inikah cinta?
Sunyi sudah terlalu yakin untuk sering datang di malam hari. Ia tak pernah bilang apa yang ia rasa. Tapi bersama gelap ia bertemu orang orang yang setia berteman denganya. Mereka yang hanya diam tak tau harus berkata apa, lalu memilih menatap bintang dari gelapnya sudut malam..Gelap tak menyadari, tapi sunyi selalu menemani. Sunyi tak pernah bilang, walau ia sering disandingkan dengan bintang. Ia hanya terus diam, seakan bilang kalau kau tak paham. Ada yang bilang ini cara sunyi mencintai. Menjadi selimut bagi mencekamnya gelap. Seakan bilang kalau gelap tak sendiri. Menemani dalam diam, walau yang ditemani tidak menyadari.
Inikah cinta?
Entahlah. Yang aku pahami, cinta tak sesingkat gerak bibir “aku cinta”. Cinta haruslah sesuatu yang mendekatkan kita pada yang maha pencipta. Sebagaimana tujuan kita diciptakan di dunia. QS. Adz-Dzariyat ayat 56.
_________
Penulis: Rohmatikal Maskur
Tulisan tersebut adalah tulisan terbaik peringkat ke-2 dari karya yang masuk dalam JMMI Writing Challenge Februari 2015 – #Cinta. Selengkapnya baca disini.

Bagiku, Cinta Itu…

Kurebahkan tubuhku di atas kasur, menatap kosong langit-langit kamar. Perasaan dan pikiranku terfokus pada satu kata. CINTA. Paru-paruku sesak rasanya, susah payah aku menarik napas dan membuangnya dengan berat hati. Dahulu, kata itu selalu menghiasi seluruh inderaku. Sekarang, ketika aku merasakannya kembali, untuk apa aku mengindera hal yang tak perlu diindera? Cinta bukan teori. Cinta merupakan penerapan dan perwujudan naluri yang dimiliki manusia. Bukankah begitu? Sudah menjadi naluri manusia untuk berkasih sayang. Sudah menjadi naluri manusia jika tiba-tiba ia terpusat dan terfokus untuk melakukan hal-hal yang membuat orang yang dicintainya bahagia dan memperhatikannya. Benar bukan? Ingatkan kembali jika aku salah.
Cinta memang candu yang masih belum ditemukan obat penawarnya. Setidaknya bagiku seperti itu. Hati ini serasa membuncah jika merasakannya. Sudah lelah rasanya otak ini kuputar berulang kali untuk membentengi kewarasan yang mungkin sudah hampir tak tertolong lagi. Mau gila aku rasanya. Memikirkanmu. Mendambamu. Merasakan kehadiranmu. Membayangkan bagaimana jika aku dapat menemanimu di setiap lika-liku perjalanan kehidupan. Kau… aku benci sebenarnya jika cinta mulai berulah lagi seperti ini. Membuat pikiranku penuh sesak dengan kehadiranmu. Membuat duniaku sempit dipenuhi oleh sosokmu.
Ingin rasanya aku membisikkan kalimat ini tepat di lubang telingamu agar kau mampu merasakan getaran suaraku. “Aku mencintaimu”. Namun apa daya suaraku tercekat tiap hendak mengucapkannya. Pada akhrinya kalimat itu hanya berwujud udara yang terbawa angin. Entah kemana angin itu membawa serta pengakuanku. Kusebutkan namamu beserta ucapan cinta dalam doaku. Setidaknya penciptamu sudah tahu bahwa aku mencintaimu.
Bukankah tadi aku berkata bahwa cinta bukan teori? Tentu saja aku sudah berkali-kali mencoba untuk membuktikannya. Aku mencoba menarik perhatianmu. Mensejajarkan diri untuk bisa berjalan bersamamu. Mencari tahu hal yang kau sukai supaya bisa membahasnya denganmu. Mengaktifkan sensor peka agar bisa membantumu tanpa harus kau pinta. Menjadi badut penuh lelucon dan semangat agar kau bisa tersenyum kembali di saat kau berada di bawah roda kehidupan. Menjadi radar agar bisa melindungimu dari segala hal yang mengancammu. Secara naluriah beginilah sikapku ketika kau berada di sekitarku. Rasanya saraf sensorikku sudah menganggapmu sebagai stimulus yang membuat motorikku bekerja tanpa harus bertanya ke otak terlebih dahulu.
Di sisi lain aku khawatir bercampur cemas ketika kehadiranku terkadang menganggu kesenanganmu. Bukan apa-apa, tapi memang aku bukan seperti mereka atau orang lain. Kehadiranku yang tiba-tiba muncul mengusikmu dan menarikmu agar keluar dari zona nyamanmu. Celotehanku yang memekakkan telingamu dan terkadang membuatmu mendengus kesal. Isyarat pandangan mataku yang sarat makna juga membuatmu berdecak mungkin sambil berujar dalam hati, ‘Siapa kau yang berani-beraninya mengatur hidupku?’. Ya… sikap protektifku ini terkadang membuatmu melangkah mundur menjauhiku. Membuatku semakin khawatir saja.
 Namun cinta apa yang lebih besar daripada cinta yang berlandaskan cinta kepadaNya. Cinta itu suci, bukan? Cinta suci karena kita menghadirkan Allah di setiap hembusan napasnya. Aku mencintaimu sangat besar sampai-sampai aku berani mengarahkan jalanmu ketika langkahmu menjauhiNya. Aku mencintaimu sangat dalam sampai-sampai aku berani menarikmu begitu kuat ketika kau berada di tepi jurang kemaksiatan. Aku memang bukan mereka atau orang lain yang membuatmu nyaman ketika kau melangkah menjauh dari jalanNya. Aku juga bukan mereka atau orang lain yang membuatmu terpesona dengan nikmat dunia sampai-sampai kau ingin berlari mengejarnya.
Bukankah sering kusampaikan padamu sebuah hadits yang menyiratkan bahwa apa yang kulakukan merupakan wujud cintaku padamu?
Allah berfirman, “Kecintaanku pasti diperoleh oleh orang yang saling mencintai karena-Ku, saling berkumpul karena-Ku, saling mengunjungi karena-Ku, dan saling memberi karena-Ku”. (Shahih, Malik dalam al-Muwatha)
Memang seperti itulah cinta. Cinta telah meminta semuanya dariku. Tubuhku, waktuku, perhatianku, perasaanku. Cinta ini tak akan membuatku lelah untuk setia merengkuhmu, menarikmu, menjagamu dalam suatu dekapan ukhuwah. Semua ini karena Allah maka aku mencintaimu, Ibu. Aku mencintaimu, Ayah. Aku mencintaimu, Saudaraku. Aku mencintaimu, Sahabatku. Dan kelak aku akan mencintaimu, Imamku.
_________
Penulis: Dinda Sarihati Sutejo
Tulisan tersebut adalah tulisan terbaik peringkat ke-1 dari karya yang masuk dalam JMMI Writing Challenge Februari 2015 – #Cinta. Selengkapnya baca disini.

Popular Posts

Beranda

Powered by Blogger.

 

© 2013 Seorang Hamba. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top